Sistem Komputasi Edge, Ini Tantangan Industri di Era Digital

Kompas.com - 20/09/2019, 08:14 WIB
Ilustrasi digital SHUTTERSTOCKIlustrasi digital
|
Editor Latief

SINGAPURA, KOMPAS.com – Disrupsi pada era digital mempengaruhi hampir semua lini kehidupan, tak terkecuali tren dalam dunia industri. Ambil contoh hubungan antara telepon pintar dan industri komersial.

Saat ini telepon pintar mempunyai banyak kegunaan. Tak sebatas menelepon dan mengirim pesan. Lebih jauh dari itu, smartphone mempunyai andil besar dalam hal pembayaran digital.

Sebut saja pembelian kopi di beberapa kedai kopi kekinian. Saat ini sebagian masyarakat lebih cenderung melakukan pembayaran dengan memakai uang digital, baik secara online dari jarak jauh maupun dengan cara taping dan scan barcode.

Namun, tak ada gading yang tak retak. Pembayaran digital pun mempunyai kendala yang bisa merepotkan industri dan konsumen bila tak dapat diatasi dengan baik, yakni bila terjadi down pada sistem.

Baca juga: Schneider Electric Nilai Pasar Asia Prospektif

Jika hal tersebut terjadi, pembayaran digital tidak akan bisa digunakan dan investasi yang dilakukan perusahaan untuk mengimplementasikan pembayaran digital akan terhambat.

Executive Vice President Secure Power Division Schneider Electric, Dave Johnson, mengatakan jika terjadi kendala pada pusat data center sebuah perusahaan, hal itu akan berakibat fatal. Transaksi tidak akan bisa dilakukan dan butuh waktu cukup lama untuk memperbaikinya.

"Industri komersial tak hanya memiliki satu cabang, tapi tersebar di seluruh jangkauan mereka. Oleh karena itu, perusahaan harus memiliki sistem komputasi Edge pada masing-masing cabang untuk meminimalkan kendala," papar Dave pada seminar 'Life at the Edge' di Sands Expo & Convention Center, Singapura, Kamis (19/9/2019).

Baca juga: Schneider Klaim Bisa Pangkas Konsumsi Listrik Gedung 30 Persen

Edge merupakan istilah yang merujuk pada sistem komputasi lokal yang lingkupnya lebih kecil dan fokus menghimpun data salah satu cabang. Nantinya, data yang terdapat pada cabang tersebut disimpan dan diolah terlebih dahulu pada data center lokal.

Dengan cara itu, pusat data center yang menjadi tempat berkumpulnya semua data perusahaan memiliki beban lebih sedikit.

Berbeda halnya bila perusahaan hanya memiliki satu pusat data tanpa jaringan komputasi lokal (Edge). Kinerja pusat data bakal memiliki beban berat dan rawan terjadi down.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X