Singapura Jadi Negara Pertama yang Larang Iklan Minuman Manis

Kompas.com - 13/10/2019, 13:00 WIB
Ilustrasi. ShutterstockIlustrasi.

SINGAPURA, KOMPAS.com - Singapura menjadi negara pertama di dunia yang melarang total iklan minuman manis dalam kemasan. Ini dilakukan sebagai upaya memerangi penyakit diabetes.

Dilansir dari Business Insider, Minggu (13/10/2019), larangan tersebut diumumkan pada Kamis (10/10/2019) lalu. Larangan iklan minuman manis mencakup seluruh platform media massa dan kanal online seperti televisi, internet, surat kabar, radio, dan iklan luar ruangan.

Kementerian Kesehatan Singapura menyebut, label nutrisi juga akan ditempatkan pada kemasan minuman manis. Label bertuliskan "Tidak Sehat" akan dicantumkan pada minuman dengan kadar gula sedang hingga tinggi.

Aturan tersebut berlaku pada minuman manis dalam kemasan botol, paket, dan kaleng. Ini termasuk minuman instan, minuman berkarbonasi, jus, minuman susu fermentasi, dan yogurt.

Diwartakan The Strait Times, rincian aturan ini akan segera diumumkan pada tahun 2020 mendatang.

Baca juga: Arab Saudi segera Terapkan Pajak untuk Tembakau dan Minuman Manis

Menteri Negara Senior untuk Bidang Kesehatan Edwin Tong menyatakan, tujuan aturan dan pelarangan tersebut adalah untuk memberikan pilihan yang terinformasi dengan baik, menurunkan pengaruh iklan, dan mendorong produsen menurunkan kadar gula dalam minuman manis.

Kementerian Kesehatan Singapura menyatakan, label dengan pembeda warna akan menunjukkan jika minuman tersebut sehat, netral, atau tidak sehat. Label tersebut juga disertai informasi kadar gula dan persentase rasio gula di dalam minuman.

Diabetes kini semakin menjadi permasalahan pelik di Singapura. Survei yang dilakukan pada 2018 lalu menunjukkan rata-rata warga Singapura mengonsumsi 12 sendok teh atau 60 gram gula dalam sehari.

Dari angka itu, separuhnya berasal dari minuman manis dalam kemasan.

"Ini menjadi kekhawatiran, karena secara rata-rata, tambahan sajian minuman manis sebesar 250 ml per hari akan menambah risiko diabetes hingga 26 persen," ujar Tong.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X