Kompas.com - 05/11/2019, 18:39 WIB
Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki memberikan keterangan pers mengenai gebrakan UMKM selama masa jabatannya di Kantor Kemenkop UKM, Jakarta, Selasa (5/11/2019). KOMPAS.com/ADE MIRANTI KARUNIA SARIMenteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki memberikan keterangan pers mengenai gebrakan UMKM selama masa jabatannya di Kantor Kemenkop UKM, Jakarta, Selasa (5/11/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Teten Masduki meragukan dengan perkembangan koperasi. Meskipun, koperasi berada pada kementeriannya. Pasalnya, organisasi koperasi masih dianggap kaku dalam mengembangkan sistemnya.

Lantaran saat ini, banyak perusahaan serta UMKM telah beralih memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan perekonomian serta usaha. Sehingga, ketika bersaing secara global, sudah tidak gagap lagi terhadap teknologi.

"Dari skala bisnisnya, koperasi itu ada di UMKM. Jadi kalau koperasi tidak segera menggunakan teknologi, kalah nanti. Sementara sekarang, model-model pembiayaan menggunakan aplikasi, jauh lebih cepat kerjanya," ujarnya dalam konfrensi pers di Kantor Kemenkop UKM, Jakarta, Selasa (5/11/2019).

Dia mendorong kepada para pendiri koperasi agar segera mengubah pola pikir dan mulai membaca pergerakan pelaku pasar. Apalagi sekarang ini, lanjut Teten, investor lebih tertarik berinvestasi di perusahaan-perusahaan berbasis teknologi.

"Kalau koperasi tidak segera mengambil peluang tersebut dan tidak beralih ke teknologi, tidak punya kemampuan membaca selera pasar, tidak mampu membaca perubahan-perubahan ekonomi dunia, saya kira koperasi akan ketinggalan," katanya menegaskan.

Di sisi lain, kendala lambannya koperasi untuk berkembang pesat adalah orang-orang yang terlibat mendirikannya. Terkecuali, menurut dia, investor atau pemilik modal koperasi tersebut mampu mengubah koperasi menjadi koorporasi serta menggunakan teknologi sebagai pembiayaan.

"Problemnya, koperasi itu kumpulan orang bukan kumpulan modal. Kadang ini yang sering dikeluhkan, ketika anggota koperasi rapat, ada yang tidak sepemikiran," ucapnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Namun untuk sementara ini, mantan Ketua Indonesia Corruption Watch (ICW) ingin memfokuskan produk dari koperasi tersebut.

"Saya sekarang lebih fokus pada produknya. Karena sekarang yang kelihatan itu harusnya apapun kita mau punya program pelatihan, pembinaan dan segala macam, yang dilihat seharusnya ada peningkatan dalam bisnis mereka tidak," ujarnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.