Syarat RI Menjadi Negara dengan Ekonomi Terbesar di 2045, Ekonomi Harus Tumbuh 7 Persen Per Tahun

Kompas.com - 20/11/2019, 11:42 WIB
Ilustrasi shutterstock.comIlustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) mengungkapkan, ekonomi Indonesia perlu tumbuh 7 persen setiap tahun agar bisa menjadi bagian dari lima negara dengan ekonomi trebesar di dunia pada 2045 mendatang.

Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi Internasional Kemenko Perekonomian Rizal Affandi Lukman menyampaikan dengan tumbuh 7 persen setiap tahun, ekonomi Indonesia bisa mencapai 7 triliun dollar AS pada 2025 mendatang.

"Untuk 2025, dalam jangka waktu lima tahun Indonesia perlu tumbuh 7 persen setiap tahun," ujar dia ketika memberi paparan di Jakarta, Rabu (20/11/2019).

Per tahun lalu, Indonesia telah menjadi bagian dari 1 trillion club economy, atau negara dengan produk domestik bruto (PDB) di aras 1 triliun dollar AS.

Baca juga : Dua Jurus Jokowi untuk Wujudkan Mimpi Indonesia Jadi Negara Maju di 2045

Rizal mengatakan, jika Indonesia hanya tumbuh 5 persen setiap tahun seperti beberapa tahun belakangan, mimpi Indonesia untuk jadi bagian dari negara dengan ekonomi terbesar seperti yang diutarakan Presiden Joko Widodo tak akan tercapai.

" Pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen tidak cukup untuk menjadikan Indonesia negara terbesar pada 2045 seperti keinginan Pak Presiden Joko Widodo (Jokowi)," ujar Rizal.

Berdasarkan perhitungannya, jika ekonomi RI hanya tumbuh 5 persen per tahun, pada 2045 mendatang PDB Indonesia hanya mencapai 5 triliun dollar AS.

Padahal ke depan, tantangan perekonokian kian berat. Kondisi geopolitik global yang kian tidak pasti kian pengaruhi kondisi ekonomi global. Misalnya saja perang dagang antara AS-China, Brexit, Resesi Hongkong, dan sebagainya. 

International Monetary Fund (IMF) pun telah memperkirakan pertumbuhan ekonomi global bakal terus melambat. Artinya permintaan global lemah akan mempengaruhi harga komoditas, tentu ini akan menjadi dampak negatif terhadap pertumbuhan ekspor di Indonesia yang sebagian besar masih mengandalkan komoditas. 

"Bank sentral sekarang lebih akomodatif, ini membuat low interest rate memberikan peluang kepada negara berkembang seperti Indonesia untuk bisa meningkatkan lagi aktivitas ekspornya," ucap Rizal.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X