Wabah Demam Babi, Ini Imbauan Kementan

Kompas.com - 20/12/2019, 06:46 WIB
Ilustrasi babi ShutterstockIlustrasi babi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan bila ada kematian hewan babi atau penyakit dengan gejala African Swine Fever (ASF) alias demam babi Afrika.

Sebab, ada penanganan khusus untuk menghadapi virus demam babi tersebut.

Terkait penanggulangan virus demam babi, pemerintah mendirikan posko darurat sekaligus menugaskan tenaga medis dan paramedis terlatih.

Menurut Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita, pemerintah telah menyiapkan anggaran APBN sebesar Rp 5 miliar, dengan alokasi mendukung kegiatan operasional gabungan penanganan kasus di lapangan.

Baca juga: Gubernur Edy Rahmayadi: Pemprov Anggarkan Rp 5 M untuk Penanganan Babi di Sumut

"Jangan menangani dengan membuang ke lingkungan atau sungai," kata I Ketut Diarmita, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (19/12/2019).

Langkah-langkah terpenting dalam penanganan ASF adalah adanya penerapan prinsip-prinsip biosekuriti seperti disposal, penguburan, standstill order, disinfeksi, pengawasan lalu lintas peternakan babi dan produknya, pelarangan swill feeding, sosialisasi dan pelatihan.

"Untuk semua daerah yang terdampak, Kementan telah memberikan bantuan berupa desinfektan, mesin sprayer, alat pelindung diri dan kantung bangkai. Semua bantuan ini dan pendampingan kepada peternak diberikan melalui posko darurat, di semua tingkatan mulai dari Pusat, provinsi, kabupaten/kota, bahkan tingkat kecamatan," ujarnya.

Baca juga: Mentan Khawatir Wabah Flu Babi di Sumut Ganggu Ekspor RI

Sementara itu, Fadjar Sumping Tjatur Rasa, Direktur Kesehatan Hewan di Ditjen PKH Kementan menjelaskan, saat ini penyakit ASF masih bisa dibatasi kejadiannya di 16 kabupaten/kota di Sumatera Utara.

Kabupaten/kota tertular yakni Dairi, Humbang Hasundutan, Deli Serdang, Karo, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Samosir, Simalungun, Pakpak Bharat, Langkat, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, dan Medan.

Ia berharap langkah-langkah penerapan biosekuriti yang dilakukan bersama-sama antara petugas dan masyarakat bisa menekan kemungkinan penyebaran kasus lebih lanjut.

"Penyakit ASF ini penyebabnya adalah virus yang sangat bandel, virus ini tahan lama di lingkungan dan produk babi. Jadi kita harus benar-benar memastikan penerapan biosekuriti yang ketat apabila kita tidak ingin penyakitnya tambah menyebar," katanya.

Baca juga: Ditanya Peluang Ekpor Babi ke China, Apa Jawaban Mentan?

Namun Fadjar juga menegaskan, virus tersebut bukan penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia (zoonosis), jadi produk babi dipastikan tetap aman untuk konsumsi.

Kejadian penyakit ASF ini telah diprediksi oleh para ahli, termasuk di Indonesia. Sehingga, Kementan telah mengambil langkah-langkah antisipasi.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X