Kaleidoskop 2019: Usai Dikuasai, Bagaimana Nasib Freeport Saat Ini?

Kompas.com - 30/12/2019, 10:40 WIB
Kegiatan operasi pertambangan PT Freeport Indonesia di Timika, Papua, Sabtu (12/5/2012). KOMPAS/AGUS SUSANTOKegiatan operasi pertambangan PT Freeport Indonesia di Timika, Papua, Sabtu (12/5/2012).

JAKARTA, KOMPAS.com – PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) Persero (sekarang MIND ID) pada 21 Desember 2018 lalu, resmi membeli sebagian saham PT Freeport Indonesia (PTFI). Dengan begitu, kepemilikan saham Indonesia atas PTFI meningkat dari 9 persen menjadi 51 persen.

Pengalihan saham tersebut ditandai dengan proses pembayaran dan terbitnya Izin Usaha Pertambangan Khusus Operasi Produksi (IUPK) sebagai pengganti Kontrak Karya (KK) PTFI yang telah berjalan sejak tahun 1967 dan diperbaharui di tahun 1991 dengan masa berlaku hingga 2021.

Inalum pun telah menyusun sejumlah program pasca mengambil alih 51 persen saham PTFI. Direktur Utama PT Inalum, Budi Gunadi Sadikin mengatakan, ada tiga rencana strategis yang ditempuh PTFI. Pertama, yakni menjalankan rencana jangka panjang PT FI yang telah disusun dalam long term investment plan.

Kemudian, Inalum sebagai operator PTFI akan melakukan transfer teknologi mengenai pertambangan emas dan tembaga bawah tanah terbesar dan terkompleks di dunia. Tambang PTFI masih sebagian yang dieksploitasi. Masih ada tambang bagian dalam yang belum dieksplorasi.

Eksploitasi tambang Freeport berpotensi menghasilkan 1,8 miliar dollar AS dalam empat tahun ke depan. Tak hanya menguntungkan dari sisi finansial, tapi juga dari segi keilmuan. Usai diakuisisi, perkembangan apakah yang terjadi sepanjang 2019 pada perusahaan afiliasi dari Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc ini?

Baca juga: Setelah Freeport dan Vale, Apa Lagi yang Diincar Holding BUMN Tambang?

1. Potensi Penerimaan dari Tambang Freeport Naik 10 Kali Lipat

Direktur Utama PT Inalum, Budi Gunadi Sadikin mengatakan, PT Freeport Indonesia akan menghasilkan banyak keuntungan bagi Indonesia. Diperkirakan penerimaan dalam 4 tahun ke depan akan naik empat kali lipat dibandingkan sebelumnya.

"Jumlah penerimaan dalam empat tahun ke depan diperkirakan sebesar 1.8 miliar dollar AS, jauh lebih besar dari penerimaan di tahun 2018 yang hanya 180 juta dollar AS," ujar Budi di kompleks DPR RI, Jakarta, Selasa (15/1/2019).

Penerimaan untuk 2019-2020 tidak ada karena belum beroperasi. Baru pada 2021 dan 2022 Freeport menyumbang ke negara masing-masing sekitar 470 juta dollar AS. Selain itu, pada 2022 juga ada tambahan metal strip. "Tambahan metal strip setara dengan 900 juta dollar AS jadi total 1,8 miliar dollar AS," kata Budi.

Diketahui, tambang Freeport memiliki potensi nilai emas dan tembaga sebesar 170 miliar dollar AS. Selain itu, PTFI memilik EBITDA tahunan mencapai 4 miliar dollar AS dan laba bersihnya setelah tahun 2022 senilai 2 miliar dollar AS. "Mudah-mudahan bisa bermanfaat jadi kita bisa menjaga produksi dan kualitas produksi tambang bawah tanah," lanjut dia.

Halaman:
Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X