Menhub: Kemacetan di Perkotaan Hambat Pertumbuhan Ekonomi

Kompas.com - 05/08/2020, 15:06 WIB
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat ditemui di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Kamis (27/2/2020) KOMPAS.com/SINGGIH WIRYONOMenteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat ditemui di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Kamis (27/2/2020)

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perhubungan ( Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan, kemacetan di perkotaan sangat berdampak pada perekonomian Indonesia. Salah satunya menghambat pertumbuhan ekonomi.

" Kemacetan lalu lintas di perkotaan diidentifikasi sebagai salah satu yang menyebabkan penghambat pertumbuhan ekonomi," ungkapnya dalam webinar SBM ITB mengenai penggunaan transportasi massal, Rabu (5/8/20).

Budi Karya menjelaskan, Indonesia memiliki beberapa wilayah aglomerasi perkotaan besar. Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi) merupakan wilayah aglomerasi terbesar dengan jumlah penduduk lebih dari 33 juta jiwa.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi RI -5,32 Persen, Apindo Bandingkan dengan Kondisi 1998

Kebutuhan pergerakan di Jabodetabek pun mencapai lebih dari 88 juta setiap harinya. Dari angka tersebut, lebih dari 3,2 juta penduduk Jabodetabek melakukan commuting atau perjalanan yang rutin dilakukan tiap hari.

Dengan pergerakkan yang tinggi, Budi Karya bilang, tentu diperlukan pengelolaan yang baik agar masalah kemacetan, polusi, ketersediaan suplai dan permintaan, dan fasilitas angkutan umum massal dapat teratasi.

Namun, Jakarta justru masuk dalam kota dengan tingkat kemacetan sebesar 53 persen, sekaligus berada di peringkat 10 sebagai kota termacet di Asia.

"Selain itu pada 2019 ADB juga mengemukakan bahwa Jakarta, Surabaya, Bandung juga masuk kategori kota termacet," kata dia.

Baca juga: JK: Tanda Kemajuan Ekonomi Negara Bisa Dilihat dari Kemacetan

Kondisi kemacetan yang tinggi di kota-kota besar Indonesia ini diidentifikasi sebagai salah penyebab penghambat pertumbuhan ekonomi nasional. Kemacetan yang terjadi membuat peningkatan 1 persen urbanisasi di Indonesia hanya berdampak meningkatkan 1,4 persen PDB per kapita.

"Selain itu kerugian ekonomi akibat kemacetan lalu lintas di Jakarta mencapai Rp 65 triliun per tahun," kata Budi Karya.

Persoalan kemacetan dipicu banyaknya masyarakat yang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi ketimbang angkutan umum. Oleh sebab itu, perlu upaya-upaya untuk bisa meningkatkan pergeseran masyarakat menjadi pengguna transportasi umum.

"Berdasarkan data tersebut, shifting dari kendaraan pribadi menggunakan angkutan umum massal merupakan keniscayaan. Oleh karenanya, pemerintah upaya terus bangun infrastruktur perkotaan yang terintegrasi," pungkas Budi Karya.

Baca juga: Ekonom: Indonesia Belum Masuk Resesi, Meski Ekonomi Tumbuh Negatif 5,32 Persen



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X