KOLOM BIZ
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan BCA

Quarter Life Crisis, Hal Wajar yang Dialami Manusia Usia 20-an, tapi Tetap Saja Menakutkan

Kompas.com - 21/10/2020, 08:03 WIB
Ilustrasi quarter life crisis. SHUTTERSTOCK/Creativa ImagesIlustrasi quarter life crisis.

SEJAK dulu, manusia senang sekali mengotak-ngotakkan sesama manusia. Contohnya dalam menyebut nama seseorang dengan panggilan si gagal, si sukses, si kaya, si miskin, si pintar, si bodoh, si aneh, dan masih banyak lagi. Kotak-kotak tersebut akhirnya menciptakan stigma atau label yang menakutkan di masyarakat secara turun-temurun.

Lalu, bagaimana bisa manusia menciptakan stigma yang ditakuti oleh generasi berikutnya? Mari kita ambil beberapa contoh sederhana.

“Lihat tuh, si Norak yang suka pakai baju tabrakan lagi ke sini”, “Eh, kalian tahu nggak si Ani.. itu lho yang gagal nikah, kasihan yah enggak laku-laku”, atau “Eh, kalian hati-hati deh berteman sama si Budi. Dia itu suka banget lho utang enggak pernah dibalikin, enggak bener tuh anak.”

Ungkapan-ungkapan bernada stigma dan label tadi sering kita dengar di masyarakat. Bahkan, saking seringnya, hal tersebut bisa tertanam di alam bawah sadar dan menjadi momok yang menakutkan. Akhirnya, berkali-kali kita bicara pada diri sendiri, “Jangan sampai aku jadi orang kayak begitu...”.

Quarter life crisis

Lalu, kita pun semakin takut menjadi manusia yang gagal di usia 20-an. Kita takut kalau berakhir miskin dan sangat bergantung dengan orang lain. Kita juga takut tidak berhasil dalam kehidupan percintaan, dan masih banyak ketakutan lainnya yang sudah tertanam kuat di alam bawah sadar.

Lambat laun, jika kita tak bisa mengontrol ketakutan itu dengan baik, terjadilah quarter life crisis (QLC) atau krisis di masa usia seperempat abad.

Sebenarnya, stigma dan label kepada manusia lain dimaksudkan untuk mengontrol kehidupan sosial kita atau biasa disebut social control. Dua hal itu berfungsi sebagai cara manusia survive menjadi masyarakat yang lebih baik, lebih unggul, dan lebih kuat di generasi berikutnya.

Masalahnya, tidak semua orang kuat menghindari jaring label kegagalan tadi di masyarakat. Akhirnya, kita merasa terkekang dan kadang merasa panik karena tak bisa berbuat apa-apa.

Untuk itulah, generasi usia 20-an harus mengenal dirinya sendiri. Caranya bisa dimulai dengan menjawab pertanyaan seperti “siapa kamu?”, “apa yang kamu inginkan dalam hidup?”, dan “bagaimana cara mengejar target-target tersebut?”.

Setiap orang pasti punya jawaban berbeda. Jadi, sebagai generasi usia 20-an, kamu tidak perlu merasa takut bila memiliki target yang berbeda dengan orang lain.

Nah, target dalam hidup ini penting banget untuk menjaga fokus berpikir kita.
QLC juga bisa terjadi jika dari awal kita enggak benar-benar tahu apa yang kita inginkan dalam hidup. Kita jarang membuat keputusan untuk diri sendiri. Sebab, segala langkah dari SD hingga lulus kuliah sudah terbiasa diputuskan oleh orang lain.

Bagaimana generasi usia 20-an bisa tahu dan mampu dengan tegas membuat keputusan sendiri dengan segala risiko yang ada jika selama 20 tahun banyak keputusan besar diambil oleh orang lain?

#BeraniKomit

Maka biasakanlah #BeraniKomit. Saat membuat keputusan, bertanggung jawablah dengan keputusan tersebut supaya saat QLC itu mulai terasa, kamu sudah lebih siap secara mental.

Saat membuat target, lalu diiringi dengan membuat keputusan-keputusan (decisions making) untuk mengejar target-target tersebut, kita butuh perencanaan. Dua aspek perencanaan yang sangat penting adalah timeline dan keuangan.

Pertama, kita bahas pentingnya timeline. Target yang tidak disertai deadline waktu yang jelas akan mudah terlupakan dan menguap seiring berjalannya waktu.

Saat kita lupa dengan target-target kita, maka siap-siap QLC akan datang menghantui karena kita enggak punya pijakan jelas apa yang kita inginkan. Kebingungan dan perasaan hilang adalah pemantik utama QLC.

Jadi, berikanlah timeline untuk setiap target yang ingin dicapai. Tidak masalah jika pada akhirnya target itu terlewati. Jauh lebih baik terlambat mengejar target daripada tidak jelas target apa yang ingin kamu kejar.

Aspek penting perencanaan berikutnya adalah keuangan. Dalam mengejar target, kita harus realistis. Target yang besar akan terasa sedikit lebih ringan jika kita breakdown ke dalam perencanaan keuangan yang lebih rinci dalam kurun waktu tertentu.

Misalnya, target membeli rumah seharga Rp 1 miliar atau Rp 2 miliar akan terlihat besar. Namun, target tersebut akan lebih realistis jika kita breakdown dengan perencanaan keuangan yang jelas, dalam kurun waktu sekian tahun #BeraniKomit menyisihkan uang tiap bulannya.

Dana jaga-jaga

Nah, memulai untuk #BeraniKomit itu memang susah-susah gampang dan dibutuhkan kemauan juga konsistensi.

Sebelum mencapai target yang besar, kamu bisa melatih dengan memulai komitmen dari hal kecil. Salah satunya dengan menyiapkan dana jaga-jaga di era pandemi seperti saat ini.

Menabung Rp 500.000 per bulan untuk dana jaga-jaga bisa jadi awal yang baik. Jika dihitung, minimal kita #BeraniKomit menyisihkan uang Rp 17.000 per hari. Berani?

Target yang besar memang terlihat menakutkan, tapi ingat apa menariknya hidup kalau setiap menemukan sesuatu yang menakutkan, kamu selalu menghindar. Ingat tadi di awal, tegaskan apa yang benar-benar kamu inginkan lalu kejar target tersebut.

Mungkin si A ingin beli rumah pertama di usia 27 tahun, tapi si B punya impian sudah pernah jalan-jalan di 20 negara pada usia 27 tahun. It’s okay! Target setiap orang sangat boleh berbeda-beda. Hal yang paling penting adalah jelas apa targetnya, jelas kapan kamu menginginkannya, dan #BeraniKomit dalam perencanaan keuangan.

Maka, mulailah membuat targetmu dan mengejarnya. Buat hidupmu terasa lebih hidup. Masa muda adalah masa yang menyenangkan, jangan biarkan masa mudamu habis terbakar percuma karena rasa takut dan gelisah. Kamu punya power untuk membuat keputusan. Kamu punya power untuk mengejar apa pun yang kamu inginkan.

Nah, untuk membantu kamu membangun pondasi keuangan yang kuat dalam mengejar target, ini saatnya kamu mulai mewujudkan.

Misalnya, dengan mulai membuka Tahapan Berjangka lewat KlikBCA #DiRumahAja. Setelah menentukan jumlah komitmen, nantinya rekening tabungan utama kamu akan di-autodebet sesuai jumlah komitmen dan masuk ke rekening Tahapan Berjangka. Dengan begitu, enggak akan ada kata lupa.

Mulai sekarang, belajar untuk #BeraniKomit dalam mengejar targetmu demi masa depan yang lebih baik. Ini adalah solusi agar kamu tetap fokus dengan apa yang kamu inginkan. Semoga tulisan ini menjadi pengingat bahwa kamu punya alasan kuat untuk bangun pagi dan memulai hari.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pandemi Bikin Transaksi Belanja Online Produk Kosmetik Naik 80 Persen

Pandemi Bikin Transaksi Belanja Online Produk Kosmetik Naik 80 Persen

Spend Smart
Gara-gara Rambut Susah Diatur, Akhirnya Mulai Bisnis Pomade Buatan Sendiri

Gara-gara Rambut Susah Diatur, Akhirnya Mulai Bisnis Pomade Buatan Sendiri

Smartpreneur
AirAsia Dapat Peringkat Tertinggi untuk Health Rating Versi Airlinerating

AirAsia Dapat Peringkat Tertinggi untuk Health Rating Versi Airlinerating

Rilis
Mendag Dorong UMKM Pasarkan Produk Secara Offline dan Online di Masa Pandemi

Mendag Dorong UMKM Pasarkan Produk Secara Offline dan Online di Masa Pandemi

Whats New
Sejumlah Program di Sektor Ketenagakerjaan Ini Bantu 32,6 Juta Orang Selama Pandemi, Apa Saja?

Sejumlah Program di Sektor Ketenagakerjaan Ini Bantu 32,6 Juta Orang Selama Pandemi, Apa Saja?

Whats New
Perlu Diskresi untuk Koperasi Multipihak

Perlu Diskresi untuk Koperasi Multipihak

Whats New
Wamendag: RCEP Bakal Berkontribusi Besar pada Ekonomi ASEAN

Wamendag: RCEP Bakal Berkontribusi Besar pada Ekonomi ASEAN

Whats New
IPC Lanjutkan Pembangunan Terminal Kalibaru, Ditargetkan Beroperasi 2023

IPC Lanjutkan Pembangunan Terminal Kalibaru, Ditargetkan Beroperasi 2023

Rilis
Ignasius Jonan Diangkat Jadi Komisaris Independen Sido Muncul

Ignasius Jonan Diangkat Jadi Komisaris Independen Sido Muncul

Whats New
Menaker: 2,1 juta Korban PHK Harusnya Dapat Karpet Merah, Hanya 95.559 yang Lolos Kartu Prakerja!

Menaker: 2,1 juta Korban PHK Harusnya Dapat Karpet Merah, Hanya 95.559 yang Lolos Kartu Prakerja!

Whats New
5 Tahun Beroperasi, Mandiri Capital Suntik Dana ke 14 Startup dengan Total Rp 1 Triliun

5 Tahun Beroperasi, Mandiri Capital Suntik Dana ke 14 Startup dengan Total Rp 1 Triliun

Whats New
Jelang Natal dan Tahun Baru, DAMRI Siapkan Ribuan Armada Bus Sehat

Jelang Natal dan Tahun Baru, DAMRI Siapkan Ribuan Armada Bus Sehat

Rilis
Profil Edhy Prabowo: Mantan Prajurit, Jagoan Silat, hingga Pengusaha

Profil Edhy Prabowo: Mantan Prajurit, Jagoan Silat, hingga Pengusaha

Whats New
5 Tips Mengatur Keuangan Keluarga

5 Tips Mengatur Keuangan Keluarga

Earn Smart
Organda Keluhkan Kualitas Aspal Jalan Tol Trans Sumatera

Organda Keluhkan Kualitas Aspal Jalan Tol Trans Sumatera

Whats New
komentar di artikel lainnya