Wisata di Kawasan Konservasi, Pemerintah Terapkan Konsep 3C

Kompas.com - 26/11/2020, 17:37 WIB
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama dengan BOPLBF melaksanakan famtrip dengan media di kawasan Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, Minggu, (13/9/2020). (HANDOUT/BOPLBF) HANDOUT/BOPLBFKementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama dengan BOPLBF melaksanakan famtrip dengan media di kawasan Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, Minggu, (13/9/2020). (HANDOUT/BOPLBF)

JAKARTA, KOMPAS.com – Sebagai salah satu sektor yang terdampak pandemi Covid-19, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) fokus menerapkan strategi 3C yaitu Community, Commodity, dan Conservation.

Hal itu dilakukan untuk membangkitkan pariwisata domestik saat pandemi Covid-19 dan sesudahnya, atau masa new normal.

Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi KLHK Nandang Prihadi mengatakan, konsep 3C mengedepankan kerja sama dengan berbagai pihak untuk mendukung komoditas wisata di kawasan konservasi yang melibatkan komunitas warga sekitar lokasi.

“Strategi ke depan untuk kawasan konservasi, kita harus memperhatikan 3C. Tidak hanya kami, tapi juga Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dan Kementerian Desa. Ecotourism harus ditingkatkan, bagaimana pendampingan komunitas yang tidak hanya jadi penonton saja,” jelas Nandang dalam acara Ekowisata Sebagai Salah Satu Solusi Kebangkitan Pariwisata Indonesia Pasca Pandemi, Kamis (26/11/2020).

Baca juga: KLHK Sebut Pertamina Akan Hapus Premium mulai 1 Januari 2021

Sejalan dengan strategi 3C, nantinya juga ada penyesuaian jam operasional di kawasan konservasi.

“Misalkan saja, Taman Nasional Komodo nanti akan kita rancang di bulan-bulan tertentu tidak boleh dikunjungi, karena itu musim kawin musim bertelur. Tentu saja tidak semua pulau kita tutup tapi bergantian,” ungkap dia.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Meski ada penjadwalan waktu buka dan tutup, namun tentunya ada alternatif yang diberikan jika wisatawan sudah jauh-jauh datang untuk berkunjung, misalkan saja ecotourism.

“Kalau 3C ini kita lakukan dengan baik, dibangkitkan dan diberdayakan, length of stay bisa meningkat, jumlah wisatawan berkunjung bertambah, yang berdampak pada pemulihan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan konservasi,” ucap dia.

Di masa new normal, selain penerapan sistem libur pada Taman Nasional, pendakian gunung juga akan dibatasi maksimal 3 hari. Hal ini dilakukan untuk memudahkan evakuasi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Misalkan saja pendakian ke Gunung Simeru yang mewajibkan para pendakinya menunjukkan surat keterangan bebas Covid-19.

“Itu artinya berwisata ke Taman Nasional sehat dan kami tidak ingin ada cluster baru. Kita juga membatasi pendakian dan hanya boleh 3 hari, karena faktor safety-nya. Kalau terjadi sesuatu di atas menolongnya bagaimana, apa yakin tidak terkena Covid-19. Di bawah juga ada tes kesehatan,” jelas dia.

Dia bilang, penerapan 3C memang berdampak pada target jumlah pengunjung yang berpotensi menurun. Namun, sisi positifnya ada multiplier effect yang tetap berputar karena waktu tinggal wisatawan akan semakin lama.

Baca juga: Kiprah Wirausaha Desa Mereguk Manisnya Pasar Wisata



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X