Kunci Membangun Koperasi Modern

Kompas.com - 27/03/2021, 16:17 WIB
Ilustrasi koperasi Indonesia di zaman digital. koperasi adalah, asas koperasi adalah, azas koperasi adalah, tujuan koperasi adalah (DOK. SHUTTERSTOCK) Ilustrasi koperasi Indonesia di zaman digital. koperasi adalah, asas koperasi adalah, azas koperasi adalah, tujuan koperasi adalah (DOK. SHUTTERSTOCK)

Keempat, turunannya kita memiliki isu di sektor tenaga kerja. Usia produktif menjadi sangat besar, sama artinya kebutuhan setiap mereka untuk memperoleh pekerjaan. Kompetisi menjadi sangat tinggi dan membuat mereka wajib mempertinggi kompetensinya masing-masing. Contohnya, Merdeka Belajar, Kampus Merdeka, banyak memberikan program magang, tujuannya untuk memberi kompetensi hard/ soft skill kepada para siswa.

Kelima, tumbuhnya ekonomi dan kelas menengah Indonesia (pra pandemi) yang membuat berbagai aspirasi dan kebutuhan meningkat. Tentu kita berharap kondisi itu akan kembali setelah kita melewati krisis pandemi ini. Dulu apa yang namanya jual-beli saham hanya dikenal di kalangan tertentu. Sekarang, mulai merakyat. Bahkan sebagian generasi Z, lahir rentang tahun 1997-2012, mulai main saham eceran dengan aplikasi tertentu.

Kondisi di atas nyaris berbeda dengan dekade lalu. Boleh lah hal itu kita sebut sebagai kondisi modern saat ini. Berbeda dengan kondisi modern dekade lalu. Sehingga koperasi harus bisa merespon itu dengan pendekatan yang lebih modern, yang lebih mutakhir.

Baca juga: Mengenal Koperasi: Pengertian, Jenis, Asas, dan Fungsinya

Kunci modernisasi

Sebagai organisasi dan perusahaan, koperasi dituntut organis dan adaptif, tumbuh dan berkembang sesuai zaman. Ibarat software, pirantinya harus terus di-update ke versi terbaru. Itu membutuhkan fitur pengembangan organisasi (organization development) dengan aneka instrumen turunannya seperti: manajemen perubahan, manajemen inovasi dan sejenisnya.

Dalam pengembangan organisasi tersebut, koperasi perlu meng-install tiga kapabilitas dinamis (dynamic capability).

Pertama, thinking ahead atau berpikir ke depan, tentang apa-apa yang akan dihadapi di masa depan. Informasi dan wawasan saat ini banyak tersebar di berbagai sumber, internet salah satunya. Perencanaan strategis lembaga harus menggunakan helicopter view yang cukup.

Kedua, thinking again atau berpikir ke belakang. Yakni merefleksikan apa-apa yang sudah dilakukan 3-5 terakhir. Pada rentang 3-5 tahun itu kita bisa melihat pathway dan karenanya lebih tuntas untuk menimbang. Apakah pathway itu masih relevan? Atau ada pathway lain yang lebih mencukupi.

Ketiga, thinking across atau berpikir melintas. Maksudnya, kita perlu melihat apa-apa yang terjadi di luar sana (di luar koperasi). Perlu melihat dan belajar dari praktika pihak-pihak lain sehingga tak mengalami sindrom katak dalam tempurung. Praktik pihak lain akan menjadi wawasan berharga bagi pengembangan organisasi koperasi.

Untuk merangkai itu semua, peran pemimpin dan kepemimpinan menjadi sangat penting. Pakem kolektif kolegial dalam koperasi idealnya tidak mengurangi ketangkasan pemimpin dan kepemimpinannya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X