Kepercayaan Publik Meningkat, Pandemi Membuat Rekat

Kompas.com - 03/05/2021, 11:33 WIB
Ilustrasi Covid-19 Shutterstock/PetovargaIlustrasi Covid-19

Pada April 2021, kepercayaan publik kembali membumbung di angka 69,1 persen, naik dibandingkan 65,9 persen dan 66,3 persen pada Agustus 2020 dan Januari 2021. Apa penyebabnya?

Kepuasan publik di empat ranah utama: politik dan keamanan, penegakan hukum, ekonomi, dan kesejahteraan sosial. Masing-masing meningkat dari Agustus 2020 70,8 persen menjadi 77 persen, 62,5 persen menjadi 65,6 persen, 52,9 persen menjadi 57,8 persen, dan 61,6 persen menjadi 71,3 persen.

Apresiasi ini menunjukkan kinerja pemerintah secara umum dan bertahap mengalami perbaikan, sekaligus menyembulkan optimisme mengingat kita masih menghadapi tantangan pandemi yang tak ringan. Publik yang selama ini terkesan terbelah, ternyata tetap secara objektif memberikan penilaian.

Tentu saja kita ingat, di awal pandemi tak ada negara yang tak terseok dan berjibaku. Pandemi menghantam tak sekadar kesehatan, tapi sekaligus ekonomi dan sosial.

Secara global, kita tak hanya meratapi jutaan nyawa yang melayang, jutaan orang terinfeksi virus, kehilangan pekerjaan, dan jatuh miskin. Pertumbuhan ekonomi negara-negara pun jatuh ke titik terendah dan utang pemerintah di hampir semua negara meningkat signifikan. Toh kita melakukan semua ini demi menyelamatkan rakyat.

Akhirnya segenap daya upaya, kerja sama domestik dan global, kerja keras banyak pihak, dan terutama sinergi dan kolaborasi semua pemangku kepentingan menunjukkan buah baik.

Vaksin ditemukan dan vaksinasi mulai masif dijalankan, kebijakan fiskal dan moneter dapat saling dukung di lapangan, industri mulai bergeliat, mereka yang terdampak secara konsisten dibantu, dan mereka yang masih punya daya tak segan mengulurkan tangan menolong sesama.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Survei IDEAS: 97,9 Persen Responden Keluarga Miskin Terdampak Pandemi Secara Ekonomi

Di saat sektor swasta lumpuh dan warga masyarakat terdampak, negara dengan segala keterbatasannya hadir, bukan dengan kalkulasi akuntansi tapi konstitusi, bukan berbekal motif mengejar keuntungan melainkan menempatkan keselamatan rakyat sebagai hukum tertinggi, berapapun ongkosnya.

Kita mulai terbiasa dengan kebiasaan baru. Entah mencuci tangan, menggunakan masker, menjaga jarak, berkomunikasi dan berbelanja daring.

Selain itu, kesadaran baru pentingnya transformasi dan reformasi sistem kesehatan, sistem jaminan sosial, desain kebijakan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan, serta pentingnya solidaritas sosial dan paradigma baru yang bervisi lingkungan yang holistik – telah menjadi wacana keseharian yang benih dan bibit tindakannya telah ditabur dan disemai dengan cukup baik. Tentu saja ini pekerjaan rumah selanjutnya, menjadikan aneka modal sosial ini terlembagakan dan memungkinkan perubahan ke arah yang lebih baik.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.