Waspadai Inflasi Dunia, Sri Mulyani: Disrupsi Lebih Panjang dari Perkiraan...

Kompas.com - 27/10/2021, 12:24 WIB
Ilustrasi inflasi THINKSTOCKS/TANG90246Ilustrasi inflasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus memantau tingkat inflasi di berbagai negara dunia.

Bendahara negara ini mengungkapkan, disrupsi rantai pasok global ternyata lebih lama dari perkiraan semula. Kendala dalam rantai pasok ini mengerek kenaikan tingkat inflasi di negara-negara dunia termasuk negara maju.

"Global supply disruption ternyata lebih panjang dari yang diperkirakan, yang menimbulkan kenaikan harga dan kenaikan harga energi akibat keterbatasan suplai mulai memicu tekanan inflasi di sejumlah negara," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers KSSK, Rabu (27/10/2021).

Baca juga: Inflasi Terjaga dan Dukung Pemulihan Ekonomi, BI Tahan Suku Bunga Acuan di Level 3,5 Persen

Sri Mulyani merinci, inflasi di AS saat ini sudah mencapai 5,4 persen (yoy) dalam 4 bulan terakhir. Tingkat ini terbilang tinggi untuk ukuran ekonomi Negeri Paman Sam. Uni Eropa juga mencatat tingkat inflasi tinggi, yakni 3,4 persen pada bulan September 2021.

Terkendalanya pemulihan ekonomi dunia pun dipengaruhi oleh risiko gelombang baru Covid-19. Munculnya varian Delta dan mutasi varian yang lain menjadi faktor risiko terbesar di tengah ketimpangan distribusi vaksin di seluruh dunia.

Akhirnya, kata dia, tak heran mendorong beberapa lembaga internasional seperti OECD dan IMF menurunkan proyeksi ekonomi dunia sepanjang tahun 2021.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"(Proyeksi ekonomi) OECD turun dari 5,8 persen pada Mei lalu, sekarang direvisi menurun menjadi 5,7 persen. Sedangkan IMF merevisi proyeksi ekonomi dunia, pada Juli adalah 6 persen menjadi 5,9 persen," beber Sri Mulyani.

Namun wanita yang akrab disapa Ani ini bersyukur, pemulihan ekonomi Indonesia terus berlanjut. Menurut Ani, pemulihan kegiatan ekonomi dipengaruhi oleh keberhasilan penanganan Covid-19.

Baca juga: BPS: Sumbang Inflasi, Permintaan Minyak Goreng sampai Ikan Segar Meningkat

"Kasus harian Covid-19 menurun sejak awal Agustus tahun 2021. Perkembangan ini mendorong pelonggaran PPKM, dan aktivitas ekonomi secara bertahap menunjukkan pemulihan," ucap Ani.

Lebih lanjut dia menyebutkan, aktivitas ekonomi yang pulih terlihat dari beberapa indikator hingga September 2021. PMI kembali pada zona ekspansif, yakni di level 52,2.

Begitu pula dengan indikator mobilitas penduduk, indeks belanja masyarakat, penjualan kendaraan motor, penjualan semen, serta konsumsi listrik baik industri dan bisnis yang menunjukkan tingkat ekspansi.

"Perkembangan yang positif ini tidak terlepas dari upaya penguatan dan sinergi serta koordinasi kebijakan antara pemerintah bersama dengan BI, OJK, LPS, dalam rangka kita bersama terus menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendorong serta akselerasi pemulihan ekonomi nasional," pungkas Ani.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.