BUMN Bikin Ruwet Investasi, Jokowi: Saya Kadang-kadang Pengin Marah...

Kompas.com - 20/11/2021, 18:30 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden RI Joko Widodo mengaku kesal dengan ruwetnya alur investasi di perusahaan pelat merah, termasuk di Pertamina dan PLN. Padahal, investasi hijau yang masuk ke dua perusahaan itu banyak sekali.

Jokowi menyebut, perusahaan listrik dan migas milik negara itu mempersulit masuknya investasi di tubuh mereka sendiri. Padahal pada titik tertentu, Jokowi melihat seharusnya investasi tersebut bisa jalan dengan mudah.

"Ruwetnya itu ada di birokrasi kita dan di BUMN kita sendiri. Terus saya kadang-kadang pengin marah untuk sesuatu yang saya tahu, tapi kok sulit banget dilakukan. Sesuatu yang gampang, kok' sulit. Kok' enggak jalan-jalan," kata Jokowi dalam saat memberi arahan kepada komisaris dan direksi PLN dan Pertamina, Sabtu (20/11/2021).

Baca juga: Erick Thohir Mau Jual BUMN yang Pendapatannya di Bawah Rp 50 Miliar

Jokowi juga bertanya-tanya alasan PLN lambat mentransisi energi fosil ke energi terbarukan. Padahal Indonesia memiliki kekuatan besar untuk mengembangkan itu.

Indonesia memiliki kapasitas geotermal hingga 24.000 megawatt (MW). Sementara untuk pengembangan hidro power, Indonesia punya lebih dari 1.000 sungai besar tersebar di Indonesia.

Dari dua sungai saja, kata Jokowi, Indonesia bisa menghasilkan kapasitas hidro power sampai 37.000 megawatt. Rinciannya, Sungai Kayan di Kalimantan Utara menghasilkan 13.000 MW dan Sungai Mamberamo di Papua menghasilkan 24.000 MW.

"Baru dua sungai. Kenapa kita enggak segera masuk ke sana? Kita ini ditanya oleh dunia, Indonesia itu punya kekuatan yang besar sekali," beber Jokowi.

Jika masalahnya terletak pada pendanaan, PLN bisa menggandeng pihak lain untuk menyuntik investasi. Menurut Jokowi, ruang investasi harus dibuka lebar-lebar, bukan justru malah dipersulit

Baca juga: Presiden Jokowi: Nanti Akan Banyak Investasi Masuk ke Energi Terbarukan...

Dia tidak ingin citra baik Indonesia mengenai pengurusan investasi yang sudah mulai membaik kembali dianggap jelek oleh negara lain gara-gara ulah BUMN.

"Kita sendiri pusing betul berhubungan baik dengan birokrasi maupun BUMN. Jangan sampai persepsi runtuh gara-gara apa yang saya sampaikan tidak bisa dikerjakan dengan cepat," pungkas Jokowi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.