KOLOM BIZ
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Experd Consultant
Eileen Rachman dan Emilia Jakob
HR Consultant/Konsultan SDM EXPERD

EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia. EXPERD diperkuat oleh para konsultan dan staf yang sangat berpengalaman dan memiliki komitmen penuh untuk berkontribusi pada perkembangan bisnis melalui layanan sumber daya manusia.

Berfokus ke Solusi

Kompas.com - 04/12/2021, 08:04 WIB
Ilustrasi pemecahan masalah dalam sebuah tim. ShutterstockIlustrasi pemecahan masalah dalam sebuah tim.

KITA pasti pernah berusaha mengatasi masalah tertentu untuk jangka waktu yang cukup lama, tetapi tidak menemukan jalan keluarnya. Pertanyaan yang sering berkecamuk dalam pikiran kita adalah “Mengapa jalan keluar sulit ditemukan?”

Tidak jarang, kita terus berkutat mencari sumber kesalahan atau sibuk menyalahkan orang lain, bahkan diri kita sendiri saat menghadapi masalah. Tidak banyak orang langsung memikirkan langkah untuk menanggulangi, meminimalisasi akibat dari masalah itu, atau mencari kesempatan yang dapat dimanfaatkan dari situasi yang tidak baik tersebut.

Tanpa disadari, kebiasaan berpikir seperti itu dapat menular dalam suatu organisasi. Saat melihat data-data penjualan yang buruk, perhatian kita mungkin saja tersedot untuk menemukan penyebabnya sampai lupa memutuskan langkah solusinya.

Bahkan, ada atasan yang senang sekali menunjukkan kesalahan anak buahnya serta membiarkan mereka berkutat menerka keinginannya, tanpa ada diskusi yang menjurus pada penyelesaian. Masalah yang terjadi pada akhirnya membuahkan frustrasi pada diri anak buah. Kondisi yang dihadapi ini seakan-akan bernada, “Something is broken, fix it.”

Kondisi seperti itu bisa terus berjalan sampai bertahun-tahun. Kita pun tidak kunjung sadar bahwa ada jalan yang lebih baik untuk membuat organisasi lebih efektif.

Bila seluruh individu dalam perusahaan berusaha untuk berfokus pada solusi, pembelajaran dan pengembangan pun akan terarah pada keterampilan-keterampilan yang bernapas pencarian solusi.

Kenali masalah yang bisa diperbaiki dan tidak

Banyak dari kita sudah mengikuti pelatihan problem solving dengan beragam model diagram cara menganalisis akar permasalahan sebelum masuk pada solusi. Namun, terlalu berfokus mencari akar permasalahan tak jarang membuat kita lelah ketika sampai pada tahap mencari solusi. Apalagi, bila akar masalah yang ditemukan berupa hal-hal yang tidak bisa kita ubah.
Mental menjadi lelah karena terjebak pada kompleksitas situasi. Mencari kesalahan dapat menggiring kita menemukan kesalahan yang lain dan membuat kita lupa untuk "move forward".

Misalnya, seseorang yang tidak percaya diri bisa saja melihat kepribadiannya terbentuk seperti itu akibat orangtua yang galak dan keras. Namun, apakah hal ini berguna bagi pengembangan dirinya?

Tidakkah lebih baik apabila kita mencari tahu situasi apa yang dapat membuatnya merasa nyaman? Selain itu, apa yang perlu ia lakukan agar dapat mengembangkan rasa nyaman itu dalam berbagai situasi lainnya? Dengan demikian, rasa percaya dirinya pun semakin lama akan berkembang.

Di dalam organisasi, bisa saja ada individu-individu yang merasa tidak sejalan lagi dengan organisasi. Daripada kita menghabiskan waktu untuk mencari tahu bagaimana dapat mengubah organisasi demi memenuhi keinginannya, lebih baik kita berfokus pada mereka yang sejalan dengan organisasi.

Hal seperti itu dilakukan oleh perusahaan retail asal Amerika Serikat (AS), Zappos. Perusahaan tersebut memberikan 1.000 dollar AS pada kepada karyawan baru yang menganggap bahwa budaya dan nilai perusahaan tidak cocok dengan nilai-nilai pribadinya setelah masa orientasi sehingga memutuskan untuk mengundurkan diri.

Otak kita pun berperan dalam mengatur cara kita berpikir. Bila kita berfokus pada masalah yang tidak terlihat jalan keluarnya, hormon-hormon seperti kortisol dan adrenalin akan mengaktivasi sistem limbik otak kita. Moda defensif ini membuat rasa ingin tahu, imajinasi, dan inspirasi menghilang.

Mitos mengenai unlearning

Orang sering berpikir, proses unlearning adalah semacam menghapus kejadian-kejadian lama yang telah kita alami dari benak. Namun, kerja otak tidak sesederhana itu.

Eileen RachmanDok. EXPERD Eileen Rachman

Otak kita pandai sekali menelusuri sejarah pengalaman pada masa lalu dan melakukan repetisi dari pengalaman itu sehingga mudah menolak kebiasaan-kebiasaan baru. Ini sebabnya orang sering kembali ke pola kebiasaan lama dan sulit menghentikannya.

Dalam organisasi, tak jarang kita melihat solusi yang digunakan untuk memecahkan masalah di masa kini adalah hal yang sudah sering dilakukan pada masa lalu. Kita tetap menggunakannya, meskipun sudah tahu bahwa solusi tersebut tidak bisa mengubah keadaan.

Pertanyaan-pertanyaan analitis yang awalnya bertujuan mencari akar permasalahan sering membawa kita pada vicious cycle dan kembali pada jawaban yang itu-itu lagi.

Di sisi lain, ada kekuatan otak yang kita kenal dengan neuroplasticity. Kekuatan ini memungkinkan kita membuat jalur baru dengan algoritma baru di otak.

Memang, dibutuhkan keberanian untuk menerapkan sistem baru yang belum ada jejaknya dalam otak kita sampai ia terbiasa untuk selalu berpikir keluar dari kerangka yang selama ini sudah ada. It is creating, versus fixing. Dengan sikap mental seperti ini, kita akan berpegang pada pertanyaan what might work, bukan sekadar what caused the problem.

Dengan melihat apa yang ada sekarang dan bagaimana cara untuk maju ke depan, perkembangan bisa kita dapatkan tanpa melihat masalah yang sudah lewat. Di sinilah, kita akan banyak menemukan kejutan semacam “aha moments” atau pencerahan karena dapat melihat dengan jelas hal-hal yang selama ini ada di depan mata tapi terabaikan.

Dengan membiasakan berpikir ke depan, otak kita akan menjadikan sistem berpikir ini sebagai default dan merangsang terus rasa ingin tahu serta imajinasi. It’s thinking about possibilities versus problem. Hope versus fear. Feeling like an optimist versus a pessimist.

Temukan perspektif baru dan ubah fokus kesadaran

Kita tahu bahwa manusia memang lebih mudah terpaku pada kebiasaan-kebiasaan lamanya. Karenanya, menghentikan kebiasaan lama membutuhkan energi yang sangat besar, mengingat secara tidak sadar kita akan terus-menerus ditarik kembali kepadanya.

Sebaliknya, membentuk kebiasaan baru merupakan jalan pintas yang cerdas untuk menemukan jalan keluar dari masalah. Mengadopsi kebiasaan baru akan menyedot energi dan perhatian kita sehingga kebiasaan lama pun terabaikan.

Misalnya saja, saat kita ingin menghentikan kebiasaan merokok. Daripada sibuk menganalisis penyebab kecanduan dan berusaha menghilangkannya, akan lebih baik bila kita mulai saja berolahraga secara rutin dan berkumpul dengan komunitas baru yang terobsesi pada gaya hidup sehat.

Bila kita berhasil mendapatkan reward positif dari kegiatan-kegiatan baru tersebut kemungkinan besar kebiasaan merokok itu pun hilang dengan sendirinya. We change the focus of our awareness to something new.

 


Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.