Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menakar Prospek Saham Perusahaan Teknologi di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Kompas.com - 14/07/2022, 16:40 WIB
Rully R. Ramli,
Yoga Sukmana

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kinerja saham-saham teknologi tengah tertekan. Ini terefleksikan dari indeks IDX sektor teknologi yang terkoreksi secara bulanan, ataupun secara tahun berjalanan.

Berdasarkan data penutupan perdagangan Kamis (14/7/2022), indeks IDX sektor teknologi berada pada posisi 7.614,77. Posisi tersebut melemah 4,08 persen dibanding posisi 1 bulan lalu, bahkan ambles 19,01 persen jika dibandingkan posisi awal tahun ini.

CEO Komunitas Para Pencari Cuan, Om Ben menilai, koreksi pada saham perusahaan teknologi saat ini tidak terlepas dari kondisi perekonomian global yang tidak menentu. Konflik geopolitik Rusia-Ukraina yang tidak berkesudahan, lonjakan inflasi, hingga normalisasi kebijakan moneter yang agresif menjadi sentimen negatif terhadap saham perusahaan teknologi.

"Dengan ekonomi kurang yang menentu seperti ini, tentu saja investor akan bermain aman," ujar dia dalam diskusi Generasi Cuan Kompas.com Episode 12: Potensi Saham Teknologi, dikutip Kamis (14/7/2022).

Baca juga: Jalankan Proyek Transisi Energi, PLN Butuh Dana Rp 7.500 Triliun

Menurut dia, dengan kondisi perekonomian saat ini investor akan melakukan peralihan portofolio investasi. Untuk memberikan rasa aman, investor memilih menempatkan dananya ke saham perusahaan lama yang telah memiliki catatan kinerja jelas.

"Tentu saja kalau kita ngomong investor akan cenderung untuk mengalihkan dana mereka, dari saham-saham teknologi yang notabenenya startup, perusahaan baru, kepada perusahaan-perusahaan yang memiliki historical lebih bagus, perusahaan yang fundamentalnya sudah jelasm" tutur dia.

Di tengah kondisi perekonomian global yang tidak menentu, Ben menyarankan kepada investor untuk lebih berhati-hati dan mencermati kondisi pasar terlebih dahulu. Ia merekomendasikan kepada investor untuk menempatkan dananya ke perusahaan dengan likuiditas baik.

"Kita lebih baik mengalokasikan ke tempat yang ada momentumnya. Sehingga uang kita enggak mati," katanya.

Baca juga: IHSG Ditutup Menguat, Rupiah Melemah Jadi Rp 15.020 Per Dollar AS

Prospek perusahaan teknologi

Walaupun saat ini masih mengalami tekanan, perusahaan-perusahaan teknologi dinilai memiliki prospek yang sangat cerah dalam jangka panjang.

"Bukan berarti masa depan saham teknologi suram, tidak. Masa depannya sangat cerah, tapi bukan sekarang waktu manggungnya," ujar dia.

Oleh karenanya, bagi investor yang berorientasi jangka panjang, perusahaan teknologi bisa menjadi pilihan utama bagi portofolio investasinya. Kinerja saham teknologi diproyeksi bangkit seiring dengan mulai stabilnya kondisi perkonomian global.

"Ketika ekonomi sudah kembali pulih, kemudian inflasi mereda, sudah mulai stabil perekonomian, itu lah baru terjadi switching lagi," ucap Ben.

Baca juga: BI Fast Capai 85,3 Juta Transaksi, Nilainya Tembus Rp 320,6 Triliun

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Temukan Indikasi Lazada Langgar Persaingan Usaha, KPPU Lakukan Penyelidikan

Temukan Indikasi Lazada Langgar Persaingan Usaha, KPPU Lakukan Penyelidikan

Whats New
Pemerintah Bakal Pangkas Subsidi Energi pada 2025? Ini Kata Sri Mulyani

Pemerintah Bakal Pangkas Subsidi Energi pada 2025? Ini Kata Sri Mulyani

Whats New
Simak, Ini Cara Ajukan Early Redemption Sukuk Tabungan ST010T2

Simak, Ini Cara Ajukan Early Redemption Sukuk Tabungan ST010T2

Whats New
Sekjen Kemenaker: Green Jobs Tak Bisa Dihindari dan Harus Jadi Prioritas

Sekjen Kemenaker: Green Jobs Tak Bisa Dihindari dan Harus Jadi Prioritas

Whats New
IHSG Berharap ke 'New Blue Chips', Simak Analisis dan Rekomendasi Saham Hari Ini

IHSG Berharap ke "New Blue Chips", Simak Analisis dan Rekomendasi Saham Hari Ini

Whats New
Hasil Merger XL Axiata dan Smartfren Diproyeksi Akan Bernilai 3,5 Miliar Dollar AS

Hasil Merger XL Axiata dan Smartfren Diproyeksi Akan Bernilai 3,5 Miliar Dollar AS

Whats New
Ramai soal Aturan Potongan Gaji Karyawan untuk Iuran Tapera, Ini Penjelasan BP Tapera

Ramai soal Aturan Potongan Gaji Karyawan untuk Iuran Tapera, Ini Penjelasan BP Tapera

Whats New
Sampoerna Agro Tebar Dividen Rp 220 Miliar, Cek Jadwalnya

Sampoerna Agro Tebar Dividen Rp 220 Miliar, Cek Jadwalnya

Whats New
[POPULER MONEY] Jokowi Terbitkan Aturan Baru soal Potongan Gaji Karyawan untuk Iuran Tapera | Pertamina Tertibkan Penjualan Eipiji 3 Kg

[POPULER MONEY] Jokowi Terbitkan Aturan Baru soal Potongan Gaji Karyawan untuk Iuran Tapera | Pertamina Tertibkan Penjualan Eipiji 3 Kg

Whats New
Setoran Pajak Loyo, Pendapatan Negara Turun

Setoran Pajak Loyo, Pendapatan Negara Turun

Whats New
 Kemendag Sebut Rencana Kenaikan MinyaKita Sudah Pertimbangkan Daya Beli

Kemendag Sebut Rencana Kenaikan MinyaKita Sudah Pertimbangkan Daya Beli

Whats New
Kegiatan Ekonomi: Definisi, Jenis, dan Contohnya

Kegiatan Ekonomi: Definisi, Jenis, dan Contohnya

Earn Smart
Tarik Tunai lewat EDC BCA Akan Dikenakan Biaya Admin Mulai 5 Juli 2024

Tarik Tunai lewat EDC BCA Akan Dikenakan Biaya Admin Mulai 5 Juli 2024

Whats New
Tips agar Tidak Terjebak Investasi Ilegal

Tips agar Tidak Terjebak Investasi Ilegal

Whats New
Cara Transfer Saldo LinkAja ke Rekening BCA

Cara Transfer Saldo LinkAja ke Rekening BCA

Work Smart
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com