Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pengadaan Barang dan Jasa Proyek IKN Wajib Gunakan Produk Dalam Negeri

Kompas.com - 16/06/2023, 19:31 WIB
Ade Miranti Karunia,
Yoga Sukmana

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) merupakan upaya pemerintah untuk mengusung pembangunan ekonomi yang inklusif dengan menyebarluaskan magnet pertumbuhan ekonomi baru sehingga tidak hanya bertumpu di Pulau Jawa semata.

Pelaksana tugas (Plt) Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian, Ignatius Warsito menuturkan, pembangunan IKN ini juga turut membuka peluang yang besar bagi sektor industri manufaktur dalam mengisi kebutuhan berbagai produk yang diperlukan.

Hal itu dia kemukakan saat meninjau progres pembangunan kawasan IKN di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Kamis (15/6/2023).

Baca juga: Soal Pekerja Asing di IKN, Wamenaker Benarkan Kualitas SDM RI Belum Mumpuni

"Pengadaan barang dan jasa untuk pembangunan IKN wajib menggunakan produk dalam negeri, mulai dari material hingga tenaga kerja lokal, sesuai yang dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun 2022 tentang Otorita Ibu Kota Nusantara," kata Warsito dikutip dari siaran pers Kemenperin.

Warsito menambahkan, sektor IKFT mulai dari hulu sampai hilir siap mengisi kebutuhan material maupun produk jadi untuk pembangunan ibu kota negara baru Republik Indonesia tersebut.

Oleh karenanya, pihaknya terus melakukan akselerasi Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN), salah satunya dengan mendorong perusahaan meningkatkan nilai tingkat kandungan dalam negeri (TKDN).

Baca juga: Rumah Menteri di IKN Punya Luas 1.000 Meter Persegi, Siap Dihuni 2024

Lebih lanjut kata Warsito, pihaknya telah mengidentifikasi potensi dan kemampuan sektor IKFT dalam upaya mendukung pembangunan IKN. Misalnya, industri semen memiliki total kapasitas 116 juta ton, dengan jumlah 16 perusahaan, dan nilai TKDN dari 77,32-98,65 persen.

Selanjutnya, industri barang dari semen total kapasitas 86 juta ton, dengan jumlah 88 perusahaan, dan nilai TKDN dari 34,61-98,74 persen. Industri ubin keramik punya total kapasitas 9,4 Juta ton, dengan jumlah 37 perusahaan, dan nilai TKDN dari 25-91,17 persen.

Selain itu, industri keramik saniter punya total kapasitas 175.600 ton, dengan jumlah 10 perusahaan, dan nilai TKDN dari 29,68-83,69 persen. Ada pula industri kaca lembaran dengan total kapasitas 1,34 juta ton dari 2 perusahaan, dan nilai TKDN telah menembus 46,34-67,44 persen.

Baca juga: Luhut Sebut Qatar Tertarik Investasi di IKN

Berikutnya, industri glass block total dengan kapasitas 96.000 ton dari satu perusahaan dengan nilai TKDN sebesar 65,97 persen.

"Untuk industri aspal buton, total kapasitasnya saat ini 1,9 juta ton dari 16 perusahaan, dengan nilai TKDN dari 43,34 persen sampai 95,55 persen. Kemudian, industri rockwool total kapasitasnya 40.500 ton, dengan jumlah satu perusahaan dan nilai TKDN 31,97 persen, serta industri refraktori dengan total kapasitas 550.000 ton dari 10 perusahaan, dan nilai TKDN mulai 14,97 persen sampai 98,97 persen," sebutnya.

Lalu, industri barang plastik untuk bangunan kemampuannya didukung dengan jumlah 319 perusahaan dan nilai TKDN dari 26,67-99,54 persen. Industri pipa plastik dengan jumlah 254 perusahaan dan nilai TKDN dari 22,85-98,68 persen. Industri cat dengan kapasitas 1,5 juta ton per tahun, dengan jumlah 150 perusahaan, dan nilai TKDN dari 9,56-94,18 persen.

"Kemudian di industri kimia hulu, juga siap mengisi, yang sebagian besar merupakan industri penghasil bahan baku. Sektor ini sudah banyak mensertifikasi TKDN produknya dengan rentang nilai dari 25,2 persen sampai 92,74 persen. Produk dari sektor industri ini digunakan oleh industri hilirnya untuk memproduksi berbagai produk seperti di industri tekstil, industri karet, industri plastik, industri barang kimia, industri farmasi, dan industri barang galian bukan logam," papar Warsito.

Baca juga: Menteri KKP Bantah Kebijakan Ekspor Pasir Laut Disebut untuk Muluskan Investasi Singapura ke IKN

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com