Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Suku Bunga Tinggi, Sri Mulyani: Tidak Semua Negara Bisa Tahan

Kompas.com - 17/08/2023, 11:06 WIB
Kiki Safitri,
Erlangga Djumena

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Tingginya inflasi mendorong beberapa negara melakukan kenaikan suku bunga. Federal Reserve atau The Fed hingga kini sudah menaikkan suku bunga acuan sebesar 500 bps sejak Maret tahun lalu menjadi 5,25 hingga 5,5 persen.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, tidak semua negara bisa tahan dengan kenaikan suku bunga yang dilakukan untuk menekan inflasi. Dia mengatakan, inflasi di AS dan Eropa mengalami fase terburuk dalam 40 tahun terakhir, di atas 8 persen.

“Ini direspons dengan kenaikan suku bunga yang mana sebelumnya suku bunga sebelum Covid-19, mendekati nol. Ini tidak semua negara bisa tahan dengan gejolak suku bunga yang meningkat,” kata Sri Mulyani dalam Konferensi Pers: RAPBN Dan Nota Keuangan 2024, di Jakarta, Rabu (16/8/2023).

Baca juga: Inflasi RI Terjaga, BI Dinilai Tak Perlu Buru-buru Naikkan Suku Bunga

Menurut dia, inflasi disebabkan oleh lonjakan komoditas. Inflasi tinggi pada umumnya akan diikuti dengan persoalan kredit macet, hingga krisis ekonomi. Sri Mulyani memperkirakan, negara maju masih akan mengalami inflasi tinggi dalam periode yang lama.

“Lonjakan komoditas menyebabkan inflasi. Kita lihat, inflasi AS dan Eropa merupakan yang terburuk dalam 40 tahun terakhir, di atas 8 persen. Suku bunga negara maju diperdiksi masih akan tinggi, higher for longer, yang artinya cost of capital menjadi relatif mahal,” ujar dia.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, RI merespon dalam bentuk defisit yang semakin kecil dan primary balance yang mendekati balance untuk memastikan ketahanan APBN, dan ketahanan ekonomi.

Sri Mulyani mengungkapkan, indeks PMI manufaktur global menunjukkan bahwa pelemahan global ini terlihat sangat nyata dari sisi global, dimana PMI turun menjadi 49. Sementar itu, PMI AS masih konsisten di bawah 50, pun demikian dengan China.

“Indonesia msih terjaga. Makanya, kalau kita lihat, dari negara G20, dan Asean, Indonesia, bersama dengan India, Filipina, dan Meksiko adalah 4 negara yang PMI-nya ekspansif, dan akselerated. Yang lainnya PMI-nya melambat, karena ekspansinya melambat atau terkontraksi,” lanjut dia.

Sementara itu, harga komoditas masih menjadi faktor yang diwaspadai. Harga gas turun 32 persen Ytd, harga batu bara turun 63,8 persen Ytd, dan harga CPO turun 12,5 persen. Sementara itu, harga minyak meningkat 2,2 persen karena Saudi menjaga harga pada level yang cukup tinggi.

Baca juga: Meninjau Hubungan Inflasi dan Suku Bunga Bank Sentral

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com