Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pembangunan Kereta Otonom di IKN Dikaji, Bakal Beroperasi di Sebagian Wilayah Saja

Kompas.com - 16/01/2024, 14:40 WIB
Isna Rifka Sri Rahayu,
Aprillia Ika

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) tengah mengkaji kecocokan pembangunan kereta tanpa rel atau kereta otonom (automated rail transit/ART) di IKN, Kalimantan Timur bersama Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Deputi Bidang Sarana dan Prasarana OIKN Silvia Halim mengatakan, ada kemungkinan kereta otonom ini tidak dioperasikan di seluruh wilayah IKN.

"Kami sudah berikan banyak masukan kepada Kemenhub, mana sih koridor yang paling cocok kalau memang mau diterapkan. Jadi tidak bisa mungkin di seluruh tempat. Itu yang kami sampaikan, parsial (di wilayah yang memungkinkan). Dan ini masih dalam tahap percobaan, tahap awal ini," ujarnya saat ditemui di The Westin, Jakarta, Senin (15/1/2024).

Sebab, kontur tanah di IKN yang berbukit-bukit tidak memungkinkan moda transportasi seperti kereta otonom diterapkan secara merata. Mengingat kereta otonom membutuhkan lahan yang rata untuk bisa beroperasi.

Baca juga: OIKN Targetkan Investasi Non-APBN ke Nusantara Tembus Rp 100 Triliun pada 2024

Oleh karenanya, permasalahan kontur lahan di IKN ini menjadi salah satu pertimbangan OIKN untuk membangun kereta otonom.

"Perlu kita pastikan itu kontur dari kota itu sendiri yang memang IKN sangat berbukit-bukit, tidak rata seperti kota lain sehingga ini yang selalu jadi konsiderasi kami apakah memang bisa diterapkan dengan baik atau tidak," ucapnya.

Dia menegaskan, OIKN ingin setiap teknologi yang dibangun di IKN dikaji dengan serius agar tidak hanya mengejar teknologi yang canggih saja tetapi juga mempertimbangkan kesesuaiannya.

Terlebih, pemerintah juga berencana membangun bus listrik sebagai moda yang paling mendasar di IKN.

Baca juga: Nama Djarum dan Wings Group Hilang dari Konsorsium IKN, Ini Respons OIKN dan Manajemen

Meski demikian, OIKN membuka peluang bagi moda transportasi berteknologi canggih seperti kereta otonom untuk beroperasi di IKN.

"Kami terbuka untuk teknologi-teknologi lainnya apakah masuk sebagai approven of concept dan trial dan segala macam. Dari situ kita lihat apakah cocok diimpelmemtasikan di IKN," ucapnya.

Dia mengungkapkan, untuk saat ini investor yang sudah melakukan penjajakan dengan pemerintah ialah investor dari China.

Baca juga: Kemenhub Minat Operasikan Kereta Otonom Buatan China di IKN


Sebagai informasi, China telah menerapkan moda transportasi kereta otonom di negaranya. Adapun pengembang kereta otonom di China ialah China Railway Rolling Stock Corporation (CRRC).

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi telah menyatakan minat pemerintah untuk mengoperasikan satu set kereta otonom buatan CRRC di IKN kepada pihak CRRC pada Jumat (12/1/2024) lalu.

"Satu set kereta terdiri dari tiga gerbong, berkapasitas 307 penumpang, memiliki kecepatan operasional 40 km per jam dan kecepatan maksimal 70 km per jam," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (12/1/2024).

Pihak CRRC dikabarkan akan membawa unit Kereta Otonom ke Indonesia, sebagai etalase pameran yang akan diselenggarakan di IKN sekitar Juli 2024. Ini menjadi ajang demonstrasi kemampuan dari kereta otonom.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.



Terkini Lainnya

Perbankan Antisipasi Kenaikan Kredit Macet Imbas Pencabutan Relaksasi Restrukturisasi Covid-19

Perbankan Antisipasi Kenaikan Kredit Macet Imbas Pencabutan Relaksasi Restrukturisasi Covid-19

Whats New
KKP Tangkap Kapal Ikan Berbendera Rusia di Laut Arafura

KKP Tangkap Kapal Ikan Berbendera Rusia di Laut Arafura

Whats New
Defisit APBN Pertama Pemerintahan Prabowo-Gibran Dipatok 2,45 Persen-2,58 Persen

Defisit APBN Pertama Pemerintahan Prabowo-Gibran Dipatok 2,45 Persen-2,58 Persen

Whats New
Bos Bulog Sebut Hanya Sedikit Petani yang Manfaatkan Jemput Gabah Beras, Ini Sebabnya

Bos Bulog Sebut Hanya Sedikit Petani yang Manfaatkan Jemput Gabah Beras, Ini Sebabnya

Whats New
Emiten Gas Industri SBMA Bakal Tebar Dividen Rp 1,1 Miliar

Emiten Gas Industri SBMA Bakal Tebar Dividen Rp 1,1 Miliar

Whats New
Citi Indonesia Tunjuk Edwin Pribadi jadi Head of Citi Commercial Bank

Citi Indonesia Tunjuk Edwin Pribadi jadi Head of Citi Commercial Bank

Whats New
OJK: Guru Harus Punya Pengetahuan tentang Edukasi Keuangan

OJK: Guru Harus Punya Pengetahuan tentang Edukasi Keuangan

Whats New
Sekjen Anwar: Kemenaker Punya Tanggung Jawab Besar Persiapkan SDM Unggul dan Berdaya Saing

Sekjen Anwar: Kemenaker Punya Tanggung Jawab Besar Persiapkan SDM Unggul dan Berdaya Saing

Whats New
Lowongan Kerja BUMN Viramakarya untuk Posisi di IKN, Ini Posisi dan Persyaratannya

Lowongan Kerja BUMN Viramakarya untuk Posisi di IKN, Ini Posisi dan Persyaratannya

Whats New
Soal Relaksasi HET Beras Premium, Dirut Bulog: Biasanya Sulit Dikembalikan...

Soal Relaksasi HET Beras Premium, Dirut Bulog: Biasanya Sulit Dikembalikan...

Whats New
Potensi Pasar Geospasial di Indonesia

Potensi Pasar Geospasial di Indonesia

Whats New
OJK Minta Lembaga Keuangan Bikin 'Student Loan' Khusus Mahasiswa S-1

OJK Minta Lembaga Keuangan Bikin "Student Loan" Khusus Mahasiswa S-1

Whats New
Soal Tarif PPN 12 Persen, Sri Mulyani: Kami Serahkan kepada Pemerintahan Baru

Soal Tarif PPN 12 Persen, Sri Mulyani: Kami Serahkan kepada Pemerintahan Baru

Whats New
Citilink Buka Lowongan Kerja Pramugari untuk Lulusan SMA, D3, dan S1, Ini Syaratnya

Citilink Buka Lowongan Kerja Pramugari untuk Lulusan SMA, D3, dan S1, Ini Syaratnya

Whats New
Kerangka Ekonomi Makro 2025: Pertumbuhan Ekonomi 5,1 - 5,5 Persen, Inflasi 1,5 - 3,5 Persen

Kerangka Ekonomi Makro 2025: Pertumbuhan Ekonomi 5,1 - 5,5 Persen, Inflasi 1,5 - 3,5 Persen

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com