Salin Artikel

Work from Bali, Gaya Hidup Pengembara Digital, dan Kesiapan Destinasi

SUATU malam di sebuah pusat oleh-oleh terbesar di Bali, seorang pemuda menatap layar televisi, menyimak serius pemberitaan rencana kunjungan menparekraf ke Bali.

Kurang dari satu bulan kemudian tersiar berita Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno akan berkantor di Bali untuk mengawal langsung pemulihan sektor pariwisata di sana.

"Berkantor di Bali paling tidak sebulan sekali beberapa hari, ini berkantor bener ya, bukan berkunjung, tapi berkantor," kata dia dalam keterangan tertulis seperti diberitakan Kompas.com (24/1/2021).

Pak menteri berharap mampu melihat secara langsung kondisi pariwisata di Bali yang menjadi gantungan hidup 80 persen masyarakat di sana.

Empat hari kemudian, dalam siaran pers tertulis menparekraf mengajak para pengusaha dan kalangan profesional untuk bekerja sambil berwisata di Bali.

Gaungnya belum terasa, sampai pada Mei 2021 Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi (Kemenkomarves) mencanangkan work from Bali bagi para aparatur sipil negara (ASN).

Adapun Kemenkomarves membawahi Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Pertanian dan Kementerian Investasi.

Inisiasi ini tentu disambut antusias para pelaku wisata di Bali walau sejumlah pengamat mempertanyakan kebijakan yang dianggap memboroskan anggaran dan kenapa tidak mempercepat program vaksinasi.

Faktor pendorong
Jauh sebelum pandemi terjadi dan seruan work from Bali untuk membantu pemulihan pariwisata, work from everywhere telah terjadi.

Work in Bali juga telah dilakukan bagi sejumlah pengembara digital (digital nomad). Mereka yang bekerja secara digital, tidak menetap di satu tempat, maka disebut pengembara.

Orel (2020) menyebutkan dalam beberapa tahun terakhir nomadic atau bekerja secara mobile telah tumbuh secara dahsyat di antara pekerja di seluruh dunia.

Mode ini membantu pekerja bebas dari batasan kerja yang bersifat spasial, yaitu berkenaan dengan tempat atau ruang. Mereka juga bebas secara temporal yaitu yang berkenaan dengan waktu.

Ada lima faktor esensial yang mendorong tren ini. Pertama, membangun ruang kerja pribadi. Kedua, memahami nilai kerja sama.

Yang ketiga, memperoleh pengalaman baru. Keempat, mencari sumber daya yang tepat. Kelima, munculnya motivasi akan lingkungan yang lebih kondusif.

Orel (2020) menambahkan bahwa faktor-faktor itu tidak ditemukan pada organisasi konvensional (old-fashioned).

Biasanya pekerja kreatif yang bergantung pada relasi sosial dan komunikasi informal untuk menginspirasi ide terkait erat dengan cara kerja yang dinamis. Terus mencari suasana baru yang mendorong kreativitas.

Faktor lain juga berkontribusi seperti mengubah gaya hidup (Mueller, 2016), peluang untuk bebas dari rintangan kerja tradisional (Wang dkk, 2018) dan kemungkinan memulai perjalanan menemukan jati diri (Nash dkk, 2018).

Gaya hidup pengembara digital

De Carvalho dkk (2011) mendefinisikan nomaden sebagai fenomena yang kompleks, terdiri atas proses dinamis dari praktik yang melibatkan interaksi antara manusia dan teknologi untuk menyelesaikan pekerjaan di lokasi yang berbeda.

Selanjutnya Bean dan Eisenberg (2006) mendeskripsikan nomaden sebagai "gaya baru yang radikal dari kerja" yang didasarkan atas mobilitas di dalam dan luar perusahaan, kerja paperless dan terintegrasi dengan teknologi yang mendukung fleksibilitas kerja.

Pandangan lain disampaikan Su dan Mark (2008) yang menekankan bahwa gaya hidup nomaden merepresentasi bentuk ekstrim dari kerja secara mobile yang melibatkan tiga standar.

Pertama, pekerja nomaden menghabiskan waktunya untuk melakukan perjalanan (travelling). Kedua, mereka tidak terkait dengan tempat yang tetap. Ketiga mereka membawa dan mengelola sumber daya yang diperlukan sehingga dapat mempersiapkan tempat kerja secara tepat.

Para pengembara digital biasa mengincar destinasi yang sesuai dengan orientasi kerja dan standar yang menjadi acuan mereka menjalani kehidupan.

Berlin (Mueller, 2016) dan Praha (Orel, 2019) di Eropa, Medellin (Thompson, 2018) dan Antigua (Thompson, 2019) di Amerika Selatan, Siem Reap Town, Kamboja (Bouncken dkk, 2016) dan Ubud, Bali (Wang dkk, 2019) di Asia, diakui sebagai kota destinasi para pengembara digital di dunia.

Pemberitaan Kompas.com (12/5/2021) mengutip laporan InsureMyTrip seperti dilansir Forbes menyebutkan, sepuluh negara terbaik para pengembara digital adalah Norwegia, Meksiko, Jerman, Portugal, Islandia, Yunani, Kosta Rika, Jamaika, Spanyol, dan Bermuda.

Belakangan beberapa negara Asia pun gencar mempromosikan destinasinya sebagai tempat yang sesuai untuk pengembara digital.

Thailand salah satunya yang menyiapkan Chiang Mai, Bangkok, dan Krabi sebagai destinasi hot spot pengembara digital (Orel, 2020).

Fokus perhatian

Di balik usaha pemulihan wisata dengan menawarkan destinasi sebagai lokasi bagi para pengembara digital, setidaknya terdapat tiga isu yang mengemuka.

Pertama, pengembangan destinasi seharusnya menguntungkan perekonomian lokal penduduk setempat.

Penyiapan sarana dan prasarana pendukung kerja secara digital semestinya dapat menarik para pekerja pengembara digital yang memiliki kecakapan tinggi, bukan sebaliknya.

Kualitas pekerja yang bagus memberikan dampak positif bagi lingkungan lokal. Bukan tidak mungkin membantu pula mendatangkan investasi di masa depan.

Kedua, jangan dilupakan dampak negatif polah tingkah para pekerja asing, yang walaupun bekerja digital, tetap saja berhubungan langsung dengan masyarakat setempat.

Kasus beberapa turis asing, yang bisa jadi bagian dari pengembara digital membuat "ulah" dan keresahan di Bali dan berujung deportasi, menjadi pelajaran berharga.

Ketiga, friksi budaya antara pekerja asing dengan masyarakat lokal tidak boleh dikesampingkan.

Tidak semua penduduk lokal bersedia menerima keberagaman budaya dan kebiasaan dari warga asing bekerja di sekitar mereka.

Masih banyak tantangan untuk menjadikan destinasi sebagai tempat favorit para pengembara digital.

Ide work form Bali bagi ASN, pengusaha dan profesional, mungkin berbeda perspektif dengan tren yang sebelumnya telah terjadi, karena mereka bukan pengembara digital.

Sebagai upaya membantu pemulihan pariwisata, "imbauan" ini sah-sah saja, walau tersembul pertanyaan, apakah jenis pekerjaan telah sesuai, mengingat "gaya hidup pengembara digital" lebih sesuai dengan para pekerja kreatif atau yang menjadikan kreatifitas sebagai motor utama.

Akhirnya, work from Bali yang sejati, harus dipandang sebagai perubahan gaya hidup, tidak semata memindahkan tempat bekerja.

Apakah para pegawai dan profesional yang terbiasa bekerja konvensional sudah siap?

Jangan sampai begitu tiba di destinasi, fokus dan konsentrasi buyar, karena suasana libur lebih kuat daripada bekerja.

Selamat berlibur, eh, bekerja.

Franky Selamat
Dosen tetap Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas Tarumanagara

https://money.kompas.com/read/2021/06/01/121500526/work-from-bali-gaya-hidup-pengembara-digital-dan-kesiapan-destinasi

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.