Rugi Rp 10 Miliar Per Hari, Pengusaha Protes PLN

Kompas.com - 12/11/2009, 07:14 WIB
Editorjimbon
 

TANGERANG, KOMPAS.com - Pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia Kabupaten Tangerang merugi hingga Rp 10 miliar per hari, menyusul pemadaman listrik bergilir dalam dua pekan terakhir. Merasa tidak puas dengan pelayanan tersebut, mereka akan melayangkan surat protes kepada PT PLN.

”Pemadaman listrik yang sering terjadi belakangan ini membuat anggota kami merugi. Makanya, kami akan melayangkan surat protes ke PLN. Kami akan meminta kompensasi kepada PLN sebagai rasa tanggung jawab mereka kepada pelanggan,” papar Sekretaris Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kabupaten Tangerang Juanda Usman, Rabu (11/11). Di Kabupaten Tangerang, terdapat sekitar 3.000 perusahaan.

Kompensasi itu, kata Juanda, merupakan biaya ganti rugi PLN kepada perusahaan karena pemadaman yang sering terjadi membuat proses produksi terganggu.

Sektor industri yang paling terganggu adalah tekstil dan pabrik plastik. Industri tekstil merugi karena mereka telah memiliki jadwal ketat untuk memenuhi pesanan produk kemasan akhir. Dalam industri plastik, pemadaman mendadak ketika proses produksi berlangsung mengakibatkan bahan baku tidak bisa digunakan lagi.

Menurut Juanda, pemadaman yang terjadi kali ini mengakibatkan pengusaha merugi dua kali lipat dari pemadaman yang dilakukan pada Oktober lalu yang sekitar Rp 5 miliar per hari.

Kerugian itu antara lain karena beban biaya produksi meningkat akibat difungsikannya genset sebagai cadangan listrik. Selain itu, pengusaha merugi karena perusahaan harus menanggung upah buruh yang tidak bekerja pada saat terhentinya produksi akibat pemadaman mendadak.

Ketua Apindo Kabupaten Tangerang Hery Rumawatine mengatakan, perusahaan tidak hanya merugi secara material, tetapi juga non-material. ”Kerugian yang sangat besar adalah hilangnya kepercayaan buyer kepada perusahaan-perusahaan kita,” tutur Hery.

Ganggu pasokan air

Pemadaman listrik secara bergilir berdampak pada produksi dan distribusi air bersih di Jakarta. Sekretaris Perusahaan PT Aetra Air Jakarta Yoshua Tobing, Rabu di Jakarta Pusat, mengatakan, sejak gardu Cawang terbakar, pemadaman listrik di instalasi pengolahan air (IPA) menjadi lebih sering.

”Jika listrik mati 30 menit saja, distribusi air ke pelanggan bakal terlambat sampai tiga jam. Kerugian terhentinya produksi selama 30 menit itu dapat mencapai Rp 97,2 juta,” kata Yoshua.

Kepala Komunikasi PT PAM Lyonnaisse Jaya Meyritha Maryanie mengatakan, jadwal pemadaman listrik di tempatnya tidak tepat waktu. Bahkan, aliran listrik pernah padam dua kali dalam sehari. (PIN/ECA)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.