Borobudur Menyimpan Banyak Cerita...

Kompas.com - 06/03/2013, 15:36 WIB
|
EditorI Made Asdhiana

MAGELANG, KOMPAS.com - Segala fenomena Candi Borobudur memang ladang inspirasi bagi para perupa. Ribuan karya perupa telah tercipta, termasuk empat pelukis Enggar Yuwono, Godek Mintaraga, Maman Rahman, dan Yaksa Agus.

Kali ini, mereka menampilkan karya seni rupa yang berbeda. Karya sarat makna yang tidak pernah "tertangkap" dan "terungkap" oleh kebanyakan orang, tentang The Great Stone in The World berikut sosiokulturalnya yang terjadi di sekitarnya. Lantas mereka kumpulkan atau rangkum dalam sebuah pameran lukisan bertajuk "UNTOLDology".

Pameran yang acara pembukaannya diresmikan oleh perupa Nasirun tersebut berlangsung di  Limanjawi Art House, Borobudur, Magelang, Minggu (3/3/2013). Pameran berlangsung hingga Rabu (3/4/2013) mendatang.

Bagi mereka, Candi Budha peninggalan dinasti Syailendra itu menyimpan banyak cerita yang tidak pernah terungkap oleh khalayak, bahkan tak sempat terpahatkan pada relief-relief candi. Fenomena-fenomena sosial, politik, dan sejarah para pewaris Wangsa Syailendra dan perkembangannya, justru menarik untuk diceritakan.

Dalam lukisan Enggar Yuwono, misalnya, yang berjudul "Budha@ FB 3", dengan teknik realis, Enggar melukiskan wajah Sang Buddha, di depan wajahnya dipasang kaca pelindung atau tameng milik Polisi Anti Huru-Hara. Di kaca pelindung itu pula tampak sebuah gambar sampul depan jejaring Facebook layaknya sebuah komputer.

Barangkali, Enggar ingin menunjukkan bahwa saat ini akses internet bukan hal yang luar biasa. Siapa pun bisa memanfaatkan teknologi canggih itu untuk segala hal. Mulai dari mencari teman, berkirim surat, berdagang bahkan yang hanya narsis-narsisan pun bisa.

"Kini teknologi canggih itu sudah ada di perangkat yang bisa kemana-mana. Bukan hal yang luar biasa lagi dan lewat seni rupa ini kami ingin mencoba menggiring masyarakat untuk memahami teknologi internet, dari gejala hingga dampaknya," tutur pelukis kelahiran Pekalongan, 6 September 1965 itu.

Alumnus ISI Yogyakarta itu juga menuangkan pendapatnya dengan dua karya lainnya yakni "Plasticnet #1" dan "Plasticnet #2". Dalam dua karya ini, Enggar ingin memperjelas bahwa di samping berdampak positif, internet juga bisa berdampak negatif khususnya bagi generasi muda. Seperti, situs "dewasa" yang dengan mudah mereka akses, maraknya pemerkosaan dan penculikan via Facebook.

Perupa lainnya, Godek Mintaraga, menampilkan karya berjudul "Menuju Tempat Terindah", digambarkan sejumlah awan putih mengambang di bawah langit. Di atas awan-awan yang berarak itu, dua di antaranya bersemayam Candi Borobudur dan sebuah rumah. Sedangkan di atas awan-awan lainnya kosong. Sepertinya, menggambarkan suatu pilihan hidup dan harapan-harapan manusia tentang kedamaian dan keindahan.

Lain lagi dengan Maman Rahman. Ia lebih tertarik pada aktivitas kehidupan sosial masyarakat di sekitar Candi Borobudur. Salah satunya, ia melukis para pekerja penatah batu-batu Merapi, dan diberinya  judul "Apresiasi Budaya" dan "Generasi Penerus".

Lewat kedua karya tersebut, Maman melukis sebuah potret para pewaris pemahat Candi Borobudur yang masih bertahan hingga kini. Juga kultur kerja keras para wanita Borobudur. "Generasi-generasi selanjutnya ada di tangan para wanita. Dan, tradisi adalah warisan yang terus menjadi modal para generasi selanjutnya," tutur Maman. 

Terakhir karya apik seorang Yaksa Agus, melalui lukisan "Lingga-Yoni #1" yang melukiskan dua buah cobek satu munthu dan "Lingga-Yoni #2" yang melukiskan lumpang dan palu. Rupanya, lewat dua karya tersebut ia bercerita tentang teknologi warisan kejayaan dinasti Syailendra, penggunaan batu yang dibentuk dan digunakan sebagai alat bantu kehidupan.

Cerita yang sama dikisahkan dalam "Lingga-Yoni #3". Menurut Yaksa, penggunaan alat bantu dari batu, di kalangan masyarakat Jawa kebanyakan dibuat sepasang sebagaimana lingga dan yoni, yang hampir senada dengan simbol pria dan wanita.

Tidak berakhir di situ, sejatinya masih banyak cerita yang belum, dan bahkan yang tak diceritakan (untold) dalam prasasti batu bernama Candi Borobudur. Setidaknya, melalui pameran lukisan karya empat perupa itu, sisi lain Candi Borobudur yang penuh filosofi kehidupan bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X