Kompas.com - 27/05/2013, 07:21 WIB
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com - Gerakan mencintai barang dalam negeri semakin lantang digaungkan. Buah dan sayur sebagai bagian dari kekayaan hayati Indonesia juga menjadi fokus gerakan. Namun, sejumlah permasalahan bisa mengganjal.

Menteri Pertanian Suswono pada deklarasi Gerakan Cinta Buah dan Sayuran Nusantara dan pengukuhan pengurus Masyarakat Pencinta Buah dan Sayur Nusantara (MPBSN) di Jakarta, Minggu (26/5/2013), mengatakan, tingkat konsumsi buah dan sayur masyarakat Indonesia masih rendah. Konsumsinya belum mencapai 40 kg per kapita setiap tahun, sedangkan seharusnya lebih dari 65 kg per kapita per tahun.

Ganjalan lain adalah volume usaha, terutama untuk buah-buahan. Menurut Suswono, usaha masih bersifat pekarangan, bukan perkebunan besar. Dengan kondisi tersebut, volume produksi juga terbatas.

Ia juga mengakui semakin menurunnya jumlah pekerja dan lahan di sektor pertanian. Menurut dia, penurunan jumlah tenaga kerja dan semakin sempitnya lahan membuat sektor pertanian kurang menarik sebagai lapangan usaha. Hal itu mengakibatkan migrasi tenaga kerja ke sektor lain.

Badan Pusat Statistik pada Februari 2013 merilis penurunan jumlah pekerja sektor andalan Indonesia tersebut. Pada Februari 2011, tercatat 42,48 juta jiwa berkarya di pertanian. Februari 2012 jumlahnya menurun menjadi 41,20 juta jiwa. Dan Februari tahun ini tersisa 39,96 juta jiwa.

Untuk mengatasi masalah tersebut, ke depan, kata Suswono, reformasi agraria harus direalisasikan. ”Akses terhadap lahan harus ditambah, industri pascapanen yang berbasis pertanian harus ditingkatkan sehingga nanti banyak yang terserap ke industri, sementara di on-farm-nya semakin sedikit agar penguasaan lahannya makin luas. Industri dan on-farm sama-sama mendapatkan nilai tambah. Ini yang memang terus kita dorong,” katanya.

Suswono menambahkan, bulan Juni, Undang-Undang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani akan disahkan. Regulasi tersebut sangat penting mengingat minat orang bekerja di sektor pertanian dinilai tidak menarik. ”Perlu insentif. Ini yang dirumuskan dalam UU, antara lain, terkait permodalan dan asuransi. Ini upaya-upaya perlindungan kepada petani agar pertanian tetap menjadi andalan lapangan usaha,” ujar Suswono.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Suswono juga berharap, dengan dibentuknya MPBSN, sosialisasi, promosi, serta kampanye mencintai dan mengonsumsi buah dan sayur semakin gencar dilakukan sehingga ”buah dan sayur Nusantara menjadi tuan di rumah sendiri.”

Ketua Umum MPBSN Mieke Wahyuni Suswono menyatakan, mengonsumsi buah dan sayur Nusantara berarti mengangkat martabat petani. Di samping itu, menurut dia, buah dan sayur domestik lebih aman, sehat, dan segar karena menggunakan pupuk organik. (K01)

 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X