Nasib Rupiah di Tangan BBM

Kompas.com - 13/06/2013, 10:59 WIB
EditorErlangga Djumena

Denni Puspa Purbasari

Rupiah gonjang-ganjing. Pada dua pekan lalu, rupiah masih di bawah Rp 9.800 per dollar AS. Selasa (11/6/2013) pekan ini, menurut catatan BI, rupiah mencapai Rp 9.860 per dollar AS. Di pasar non-deliverable forward, rupiah bahkan menyentuh angka psikologis Rp 10.000 per dollar AS. Sejalan dengan itu, Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Jakarta melorot 3,5 persen dalam perdagangan hari itu saja, dari 4.777 menjadi 4.609.

Secara kumulatif IHSG sudah melorot sebanyak 9,2 persen sejak 16 Mei ketika rupiah belum menyentuh angka Rp 9.800 per dollar AS. Di pasar obligasi tekanan jual juga terjadi. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun dan 20 tahun meningkat sekitar 35 basis poin dalam sehari dan harga obligasi pemerintah jatuh. Penurunan ini disebabkan asing menarik dananya keluar dari Indonesia yang dipicu oleh ketidakpastian perihal kebijakan harga BBM, selain itu juga karena membaiknya rapor ekonomi Amerika Serikat.

Pasar mulai menghukum

Situasi ini sesungguhnya tidak mengejutkan. Penulis (”Bermain Api dengan BBM”, Kompas, 16/2/2013) telah memprediksi yang akan terjadi dengan rupiah bila harga BBM tidak segera dikoreksi. Sikap ”santai” yang ditunjukkan pemerintah dengan mengoper bola BBM ke Senayan jelas membuat pasar tidak nyaman. Meskipun dalam beberapa hal pasar paham politik, pasar sungguh tidak peduli pada hitung-hitungan politik. Pasar hanya melihat angka-angka dan kecenderungan.

Persoalannya, pemerintah tidak merasa harus beradu cepat dengan memburuknya ekspektasi pasar terhadap ekonomi Indonesia. Dan hari ini, pasar menghukum Indonesia. Bagi mereka, Indonesia bukanlah satu-satunya tempat menanamkan modal dan mereka pun mulai menarik dananya keluar dari Indonesia.

Pasar tampaknya merasa sudah cukup memberikan toleransi melihat perkembangan ekonomi Indonesia. Ini bisa dilihat dari pergerakan rupiah ataupun IHSG yang relatif stabil meskipun perusahaan pemeringkat utang Standard and Poor’s (S&P) menurunkan rapor prospek ekonomi Indonesia, disusul oleh ”kosongnya” kursi menteri keuangan selama beberapa saat, serta jebloknya laporan neraca pembayaran Indonesia dan realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2013. Pasar panik karena pemerintah tidak kelihatan panik. Sikap tenang pengambil kebijakan membuat pasar bertanya-tanya, apakah pemerintah betul-betul memahami situasi yang terjadi.

Pasar bisa jadi menganggap Pemerintah Indonesia tidak peka dengan ”alarm krisis” yang sudah berbunyi. Angka defisit neraca transaksi berjalan, misalnya, melonjak hampir 70 persen dari 3,1 miliar dollar AS pada kuartal I-2012 menjadi 5,2 miliar dollar AS pada kuartal I-2013. Lebih buruk lagi, angka neraca modal yang semula masih surplus pada kuartal IV-2012—dan menjadi penambal defisit neraca transaksi berjalan—kini sudah berubah menjadi defisit 1,3 miliar dollar AS.

Dengan berubahnya neraca modal menjadi defisit, ini berarti pertahanan keseimbangan eksternal Indonesia sudah jebol, dan satu-satunya sumber penutup defisit neraca transaksi berjalan dan transaksi modal adalah cadangan devisa.

Keseimbangan eksternal

Halaman:
Baca tentang


    Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X