Sebelum SBY Lengser, Jembatan Selat Sunda Harus Dibangun

Kompas.com - 11/07/2013, 13:29 WIB
Feri dari Pelabuhan Merak, Banten, mengangkut mobil memasuki Pelabuhan Bakauheni, Lampung, Rabu (10/8/2011). Pemerintah berencana membangun Jembatan Selat Sunda untuk menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera. KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYATFeri dari Pelabuhan Merak, Banten, mengangkut mobil memasuki Pelabuhan Bakauheni, Lampung, Rabu (10/8/2011). Pemerintah berencana membangun Jembatan Selat Sunda untuk menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera.
|
EditorErlangga Djumena


JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Perindustrian MS Hidayat memberi bocoran soal waktu pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS). Pembangunan tersebut akan dimulai setidaknya sebelum Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) lengser.

Artinya, pembangunan kawasan JSS ini akan dimulai sebelum Oktober 2014, saat masa jabatan Presiden SBY selesai.

"Sebelum berakhirnya pemerintahan 2014, kawasan JSS sudah mulai groundbreaking atau dibangun karena itu janji kampanye Presiden SBY," kata Hidayat saat ditemui di kantor Kementerian Perekonomian Jakarta, Kamis (11/7/2013).

Hidayat menambahkan, kawasan JSS ini akan meliputi 6-8 titik kawasan pengembangan, di luar pembangunan JSS sendiri. Pembangunan proyek ini akan melibatkan dua provinsi utama, yaitu Banten dan Lampung.

Nantinya, pembangunan kawasan JSS ini akan memakai dana investasi jangka panjang berupa pinjaman lunak seperti yang dilakukan dalam pengembangan mass rapid transit (MRT) di Jakarta.

Awalnya, pembangunan kawasan JSS yang diperkirakan akan menelan dana sekitar Rp 200 triliun ini akan memakai dana dari APBN. Namun, Menteri Keuangan Chatib Basri akhirnya menyetujui pembangunannya merupakan konsorsium dari pemrakarsa dan BUMN.

"Jadi pembangunannya tidak pakai dana APBN. Proyek ini kan kalau menggunakan dana APBN bisa Rp 200 triliun, kan tidak mungkin. Nanti harga BBM pasti dinaikkan lagi (untuk membiayai proyek tersebut)," tambahnya.

Terkait investor yang akan masuk, Hidayat belum mau berkomentar banyak. Soalnya, kawasan untuk pengembangan proyek ini harus ditetapkan terlebih dahulu, baru kemudian mengundang investor asing yang mau berinvestasi di 6-8 kawasan yang akan dikembangkan.

"Soal siapa sajanya, ini masih jauh, nanti tergantung dengan studi kelayakannya, yang mampu menjawabnya," katanya.

Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto menambahkan, penamaan pengembangan proyek JSS ini diubah menjadi proyek Kawasan Strategis dan Infrastruktur Selat Sunda (KSISS). "Jadi namanya KSISS bukan JSS," kata Djoko.

Djoko menambahkan, pengubahan nama proyek pengembangan kawasan Selat Sunda ini disebabkan oleh berbagai aspek yang meliputi aspek angin, geologi, gempa, letusan gunung berapi, dan semua aspek yang bisa mempengaruhi pembangunan kawasan tersebut.

Di sisi lain, pengembangan proyek ini bukan hanya diutamakan pada pembangunan JSS semata, melainkan juga pengembangan 6-8 kawasan di sekitar Jembatan Selat Sunda di dua provinsi.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X