Rupiah Terus Melemah, Fundamental Ekonomi Diuji

Kompas.com - 17/07/2013, 02:50 WIB
Layar televisi yang menunjukkan kurs mata uang di Bank BNI Jakarta, Selasa (28/5/2013). Berdasar kurs tengah Bank Indonesia, rupiah ditutup Rp 9.810 per dollar Amerika atau melemah dibanding sehari sebelumnya Rp 9.792.
KOMPAS/HERU SRI KUMOROLayar televisi yang menunjukkan kurs mata uang di Bank BNI Jakarta, Selasa (28/5/2013). Berdasar kurs tengah Bank Indonesia, rupiah ditutup Rp 9.810 per dollar Amerika atau melemah dibanding sehari sebelumnya Rp 9.792.
|
EditorPalupi Annisa Auliani
JAKARTA, KOMPAS.com — Pelemahan rupiah yang tak kunjung teratasi dinilai merupakan dampak dari lemahnya fundamental ekonomi Indonesia. Periode pelemahan rupiah ini pun dinilai sebagai ujian bagi fundamental ekonomi.

"Inti utamanya adalah fundamental ekonomi kita sedang diuji. Jadi setelah kenaikan BBM, pelaksanaan program pembangunan dalam APBN serta perbaikan NPI (neraca perdagangan Indonesia) akan menentukan kenaikan rupiah," ujar ekonom Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Mirza Adityaswara, di Hotel Mulia, Jakarta, Selasa (16/7/2013).

Mirza berpendapat, saat ini ujian terutama ditujukan pada masalah ketergantungan impor, yang dituding sebagai penyebab menggelembungnya defisit NPI sepanjang 2012. Pemerintah diuji mendapatkan surplus perdagangan dengan menurunkan impor dan meningkatkan ekspor.

Menurut Mirza, langkah Bank Indonesia yang dua kali berturut-turut menaikkan suku bunga acuan (BI rate) merupakan langkah signifikan untuk mendukung kajian soal impor tersebut. Langkah Bank Indonesia tersebut, ujar dia, signifikan mendukung kajian dengan memperlambat pertumbuhan ekonomi yang selama ini bergantung pada impor.

"Selama ini kan pembangunan selalu dari impor. Sudah saatnya perekonomian harus dijaga di level yang seharusnya bertumpukan pada ekspor," tegas Mirza. Untuk mencapai hal-hal tersebut, salah satu langkah yang dapat ditempuh adalah dengan terus masuknya investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) untuk barang modal.

Bila FDI membanjir dan itu adalah investasi untuk barang modal, Mirza berkeyakinan pertumbuhan ekonomi pun akan terdorong. "Dengan masuknya FDI, maka impor barang modal akan semakin berkurang dan mengurangi defisit dalam neraca berjalan," jelas Mirza.

Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia, rupiah dalam pekan ini masih terus melemah dan menembus level psikologis Rp 10.000 per dollar AS. Pada perdagangan Senin (15/7/2013), kurs rupiah ditutup pada level Rp 10.024 per dollar AS. Pada perdagangan Selasa (16/7/2013), rupiah terus terperosok dan ditutup pada level Rp 10.036 per dollar AS.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pelemahan rupiah ini semula diduga karena dampak perekonomian global dan tak terlepas dari kemungkinan dihentikannya stimulus Bank Sentral Amerika (The Fed). Namun, ketika Gubernur The Fed menyatakan bahwa stimulus masih diperlukan untuk ekonomi Amerika dan mata uang utama dan Asia cenderung menguat terhadap dollar AS, rupiah justru masih terus terpuruk. Tak peduli intervensi Bank Indonesia sudah menggerus cadangan devisa lebih dari 7 miliar dollar AS sepanjang 2013.

Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X