Tepat, Langkah BI Pertahankan Suku Bunga

Kompas.com - 18/03/2015, 19:13 WIB
Karyawan menunjukkan uang pecahan Rp 100 ribu baru (atas) dan yang lama, usai peluncuran uang NKRI tahun emisi 2014 di kantor Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Senin (18/8/2014). Bank Indonesia bersama Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan dan mengedarkan Uang Rupiah Kertas Pecahan Rp. 100.000 Tahun Emisi 2014 yang bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-69 Kemerdekaan Republik Indonesia. TRIBUNNEWS/HERUDINKaryawan menunjukkan uang pecahan Rp 100 ribu baru (atas) dan yang lama, usai peluncuran uang NKRI tahun emisi 2014 di kantor Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Senin (18/8/2014). Bank Indonesia bersama Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan dan mengedarkan Uang Rupiah Kertas Pecahan Rp. 100.000 Tahun Emisi 2014 yang bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-69 Kemerdekaan Republik Indonesia.
|
EditorJosephus Primus


JAKARTA,KOMPAS.com - Ekonom Bank Dunia untuk Indonesia, Ndiame Diop mengatakan langkah Bank Indonesia untuk tetap mempertahankan suku bunga bank sentral (BI Rate) tetap di 7,5 persen, sebagai langkah yang tepat. Pasalnya, angka defisit transaksi berjalan masih tinggi, yakni sekitar 3 persen dari PDB. " Menurut saya keputusan mempertahankan itu bukanlah kejutan. Alasannya adalah apa yang sedang terjadi di faktor risiko eksternal. Jika Anda melihat defisit transaksi berjalan (CAD) itu masih tinggi sekitar 3 persen. Kita lihat juga ada depresiasi dari mata uang rupiah dan menguatnya dollar AS," jelas Ndiame dalam acara Indonesia Economic Quarterly (IEQ) di Jakarta, Rabu (18/3/2015).

Ndiame menambahkan, jika BI Rate turun, hal itu justru akan menyebabkan masalah pada alur portofolio Indonesia. Kemudian, fakta menunjukkan bahwa tingkat inflasi di Indonesia masih tinggi.  Berdasarkan data dari Bank Indonesia hingga Februari 2015, tercatat tingkat inflasi sebesar 6,29 persen.

Lebih lanjut lagi, Ndiame mengatakan pertimbangan selanjutnya adalah kemungkinan suku bunga The Fed (Bank Sentral AS) yang akan naik pada pertengahan tahun ini. Selain itu, menurut dia, jika BI ingin menurunkan suku bunga, hal tersebut harus disertai dengan masuknya permodalan dari investasi demi menjaga defisit transaksi berjalan. "Kami (Bank Dunia) paham bahwa mendorong investasi domestik itu penting, tapi BI dengan pemerintah harus menolong satu sama lain. Karena jika BI akan menurunkan suku bunganya, harus disertai reformasi kebijakan struktural untuk mengurangi defisit transaksi berjalan. Jika, investasi modal sudah datang ke Indonesia dan stabilitas defisit transaksi berjalan terjaga, menurut saya tidak ada alasan lagi bagi BI untuk tetap mematok suku bunga yang tinggi," jelas Ndiame.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X