Volume Impor Naik, BPS Sebut Daya Beli RI Meningkat

Kompas.com - 15/05/2015, 11:07 WIB
Ilustrasi. ShutterstockIlustrasi.
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, secara volume impor non-migas Januari-April 2015 mencapai 34,3 juta ton, atau naik 10,4 persen dibanding periode sama tahun lalu yang mencapai 31,8 juta ton.

Namun, dari segi nilai, impor sepanjang Januari-April 2015 turun 8,6 persen menjadi 40,92 miliar dollar AS, dibanding periode sama tahun lalu yang senilai 44,8 miliar dollar AS.

“Daya beli kita sebetulnya meningkat, karena harga produk dari luar relatif lebih murah. Sebetulnya kita mengalami peningkatan daya beli,” ucap Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Badan Pusat Statistik (BPS) Sasmito Hadi Wibowo, Jakarta, Jumat (15/5/2015).

Sasmito mengatakan, dilihat dari peningkatan volume impor, bisa dikatakan tidak ada perlambatan ekonomi dari segi konsumsi. Sebab, barang-barang yang dikonsumsi tidak menunjukkan penurunan.

Sasmito menambahkan, peningkatan volume tidak hanya terjadi pada impor non-migas. Volume impor migas sepanjang Januari-April 2015 mencapai 15,8 juta ton, atau naik 1,4 persen dibandingk periode sama tahun lalu yang sebanyak 15,6 juta ton. Namun, dari segi nilai, impor migas Januari-April 2015 mengalami penurunan drastis menjadi 8,4 miliar dollar AS, atau turun 42,6 persen dibanding periode sama tahun lalu yang senilai 14,7 miliar dollar AS.

Sasmito mengatakan, harga migas yang turun tajam menjadi penyebab baik penurunan nilai impor, maupun ekspor RI tahun ini.

Impor dari Tiongkok

Total nilai impor RI baik non-migas maupun migas sepanjang Januari-April 2015 mencapai 49,36 miliar dollar AS, terdiri dari impor non-migas sebesar 40,92 miliar dollar AS dan impor migas sebesar 8,4 miliar dollar AS.

Sasmito mengatakan, pada bulan April 2015 saja impor RI terbesar disumbang dari mesin dan perlatan mekanik yang mencapai 7,72 miliar dollar AS, serta mesin dan peralatan listrik yang sebesar 5,37 miliar dollar AS.

Dilihat dari negara mitra dagang utama, Tiongkok menjadi negara terbesar pemasok barang-barang impor ke RI. “Ketergantungan kita terhadap barang dari Tiongkok luar biasa besar,” ucap Sasmito.

Sepanjang Januari-April 2015, impor dari Tiongkok mencapai 9,85 miliar dollar AS, dari Jepang sebesar 5,05 miliar dollar AS, sedangkan dari Thailand mencapai 2,74 miliar dollar AS.

Sasmito menambahkan impor RI dari negara-negara ASEAN mencapai 8,56 miliar dollar AS, dan dari UE sebesar 3,72 miliar dollar AS. Impor Januari-April 2015 yang sebesar 49,36 miliar dollar AS terdiri dari, bahan baku penolong sebesar 75,78 persen, impor barang konsumsi sebesar 6,99 persen, dan impor barang modal sebesar 17,23 persen.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pandemi Bikin Transaksi Belanja Online Produk Kosmetik Naik 80 Persen

Pandemi Bikin Transaksi Belanja Online Produk Kosmetik Naik 80 Persen

Spend Smart
Gara-gara Rambut Susah Diatur, Akhirnya Mulai Bisnis Pomade Buatan Sendiri

Gara-gara Rambut Susah Diatur, Akhirnya Mulai Bisnis Pomade Buatan Sendiri

Smartpreneur
AirAsia Dapat Peringkat Tertinggi untuk Health Rating Versi Airlinerating

AirAsia Dapat Peringkat Tertinggi untuk Health Rating Versi Airlinerating

Rilis
Mendag Dorong UMKM Pasarkan Produk Secara Offline dan Online di Masa Pandemi

Mendag Dorong UMKM Pasarkan Produk Secara Offline dan Online di Masa Pandemi

Whats New
Sejumlah Program di Sektor Ketenagakerjaan Ini Bantu 32,6 Juta Orang Selama Pandemi, Apa Saja?

Sejumlah Program di Sektor Ketenagakerjaan Ini Bantu 32,6 Juta Orang Selama Pandemi, Apa Saja?

Whats New
Perlu Diskresi untuk Koperasi Multipihak

Perlu Diskresi untuk Koperasi Multipihak

Whats New
Wamendag: RCEP Bakal Berkontribusi Besar pada Ekonomi ASEAN

Wamendag: RCEP Bakal Berkontribusi Besar pada Ekonomi ASEAN

Whats New
IPC Lanjutkan Pembangunan Terminal Kalibaru, Ditargetkan Beroperasi 2023

IPC Lanjutkan Pembangunan Terminal Kalibaru, Ditargetkan Beroperasi 2023

Rilis
Ignasius Jonan Diangkat Jadi Komisaris Independen Sido Muncul

Ignasius Jonan Diangkat Jadi Komisaris Independen Sido Muncul

Whats New
Menaker: 2,1 juta Korban PHK Harusnya Dapat Karpet Merah, Hanya 95.559 yang Lolos Kartu Prakerja!

Menaker: 2,1 juta Korban PHK Harusnya Dapat Karpet Merah, Hanya 95.559 yang Lolos Kartu Prakerja!

Whats New
5 Tahun Beroperasi, Mandiri Capital Suntik Dana ke 14 Startup dengan Total Rp 1 Triliun

5 Tahun Beroperasi, Mandiri Capital Suntik Dana ke 14 Startup dengan Total Rp 1 Triliun

Whats New
Jelang Natal dan Tahun Baru, DAMRI Siapkan Ribuan Armada Bus Sehat

Jelang Natal dan Tahun Baru, DAMRI Siapkan Ribuan Armada Bus Sehat

Rilis
Profil Edhy Prabowo: Mantan Prajurit, Jagoan Silat, hingga Pengusaha

Profil Edhy Prabowo: Mantan Prajurit, Jagoan Silat, hingga Pengusaha

Whats New
5 Tips Mengatur Keuangan Keluarga

5 Tips Mengatur Keuangan Keluarga

Earn Smart
Organda Keluhkan Kualitas Aspal Jalan Tol Trans Sumatera

Organda Keluhkan Kualitas Aspal Jalan Tol Trans Sumatera

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X