Kementan Usulkan Bea Masuk untuk Kedelai Impor

Kompas.com - 28/08/2015, 14:59 WIB
Pekerja memperlihatkan kedelai impor di toko Sinar Kedele di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Sabtu (2/3/2013). KOMPAS/PRIYOMBODOPekerja memperlihatkan kedelai impor di toko Sinar Kedele di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Sabtu (2/3/2013).
EditorBambang Priyo Jatmiko
JAKARTA, KOMPAS.com - Isu harga komoditas kedelai belakangan ini kembali seksi pasca-melemahnya mata uang rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Sementara pada waktu bersamaan, harga kedelai di pasar internasional mengalami penurunan, karena AS sebagai salah satu produsen kedelai tengah memasuki musim panen.

Di sisi lain, Indonesia juga tengah memasuki masa panen kedelai lokal. Indonesia sendiri masih mengandalkan 70 persen pasokan kedelai dari impor dan 30 persen dari produksi lokal.

Saat ini harga kedelai lokal berada di kisaran Rp 4.500 - Rp 5.000 per kilogram (kg). Harga tersebut masih jauh di bawah ongkos produksi sekitar Rp 7.000 per kg. Sementara pemerintah menginginkan harga kedelai lokal bisa mencapai Rp 8.000 per kg.

Pada waktu bersamaan, harga kedelai impor berada di kisaran Rp 6.750 - Rp 7.000 per kg. Meskipun harga kedelai lokal jatuh, tapi sebagian besar produsen tahu dan tempe masih mengandalkan kedelai impor sebagai pasokan bahan bakunya. Kedelai impor diminati karena dinilai lebih bagus ketimbang kedelai lokal.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kemtan) Hasil Sembiring mengatakan, kondisi ini memprihatinkan lantaran petani kedelai lokal terus merugi dengan harga yang jatuh. Ia mengatakan, Kemtan tengah berusaha memanfaatkan momentum pelemahan rupiah ini untuk menaikkan pamor kedelai lokal.

Sebab dengan pelemahan rupiah, harga kedelai impor sudah naik mencapai sekitar Rp 7.000 per kg, dari sebelumnya sekitar Rp 6.200 per kg. Sementara itu, pasokan kedelai lokal juga berlimpah lantaran memasuki masa panen, sehingga harga jatuh di kisaran Rp 4.500 per kg.

Salah satu langkah pemerintah adalah dengan mengusulkan Bea Masuk (BM) impor kedelai. Selama ini, kedelai impor masuk ke Indonesia tanpa dikenakan BM sehingga harganya bisa lebih murah ketimbang kedelai lokal yang membuat para petani enggan menanam kedelai lagi. "Jadi alternatif kebijakannya kita mengusulkan pengenaan BM sekitar 10 persen untuk kedelai impor," terang Hasil, Kamis (28/8/2015).

Selain mengusulkan BM impor kedelai, Kemtan juga mengusulkan kepada Kementerian Perdagangan (Kemdag) agar menaikkan Harga Beli Petani (HBP) kedelai yang ditetapkan melalui Permendag menjadi Rp 8.000 per kg.

Saat ini, HBP kedelai masih Rp 7.700 per kg. Menurut Hasil, pengenaan HBP kedelai penting mengingat harga kedelai di sentra-sentra produksi, seperti di Klaten, Jawa Tengah, dan sentra-sentra-sentra lainnya saat ini tengah tersungkur. Malah di luar Pulau Jawa, harga kedelai lebih rendah lagi, seperti di Aceh dan Sulawesi Selatan yang hanya Rp 4.500 per kg. (Noverius Laoli)

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X