Pasca-Lebaran, Harga Sayur-mayur di Pasar Induk Kramatjati Turun Signifikan

Kompas.com - 11/07/2016, 13:48 WIB
Aktivitas di los pedagang sayur dan bumbu di Pasar Bandarjo, Ungaran, Kabupaten Semarang, Jumat (10/6/2016). Harga sayur-mayur naik hingga 50 persen. KOMPAS.com/SYAHRUL MUNIRAktivitas di los pedagang sayur dan bumbu di Pasar Bandarjo, Ungaran, Kabupaten Semarang, Jumat (10/6/2016). Harga sayur-mayur naik hingga 50 persen.
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Pasca-hari raya Idul Fitri 2016 harga sayur-mayur di Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur, turun cukup signifikan.

"Harga di DKI Jakarta rata-rata hari ini turun dibanding hari kemarin 10 Juli, dan bahkan tanggal 8 dan 7 Juli turunnya lebih tinggi lagi," ujar Suwandi, Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Pertanian (Kementan) kepada Kompas.com, Senin (11/7/2016).

Dari data yang dihimpun Kompas.com pada Senin, 11 Juli 2016, di Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur, harga berbagai komoditas hortikultura turun, seperti cabai merah keriting yang saat ini Rp 16.000 per kilogram atau turun Rp 6.000 dibandingkan sehari sebelumnya.

Sementara itu, cabai merah besar saat ini Rp 18.000 per kilogram atau turun Rp 7.000 dibandingkan sehari sebelumnya. Harga cabai rawit merah Rp 21.000 per kilogram, turun signifikan sebesar Rp 9.000 dibandingkan sehari sebelumnya. Cabai rawit hijau Rp 14.000 per kilogram, turun sebesar Rp 3.000 dibandingkan sehari sebelumnya.

Sedangkan komoditas bawang merah saat ini menembus harga Rp 33.000 per kilogram, turun Rp 5.000 dibandingkan sehari sebelumnya. Untuk bawang putih berbeda dengan komoditas lain harganya cenderung stabil Rp 31.000 per kilogram.

Kentang Rp 14.000 per kilogram atau turun Rp 1.000 dibandingkan sehari sebelumnya. Tomat Rp 6.000 per kilogram, turun Rp 2.000 dibandingkan sehari sebelumnya, dan kelapa kupas Rp 7.000 per butir atau turun Rp 1.500 dibandingkan sehari sebelumnya.

Sementara itu, Suwandi menuturkan penurunan harga pangan pokok terjadi oleh berbagai faktor salah satunya adalah efek psikologis dari Ramadhan dan Lebaran sudah berakhir serta demand menurun karena masih musim mudik.

Menurut Suwandi, agar harga pangan pokok pada Lebaran tahun depan menjadi lebih baik, perlu dilakukan peningkatan kualitas tata kelola pangan.

Pertama, peningkatan antisipasi dimulai dari aspek hulu. "Saat ini pun sudah dilakukan antisipasi satu musim sebelumnya secara baik sehingga pasokan cukup, ke depan kalkukasi secara detail jumlah dan jenis produk dengan pengaturan pola tanam, pemetaan sebaran detail sentra produksi, pemantauan harian panen semua pangan pokok secara online," ujarnya.

Kedua, perlu fokus perbaikan pada aspek hilir. Ini dapat dilakukan dengan memperlancar distribusi pasokan, pengelolaan sistem logistik, penanganan tata niaga, dan stabilisasi harga.

Pada aspek hilir ini fokusnya yaitu "mendekatkan" konsumen ke produsen dan sebaliknya. Caranya yakni Toko Tani Indonesia (TTI) yang sudah dibangun Kementan bergandeng bersama-sama dengan Bulog, koperasi, dan pelaku usaha lainnya untuk membeli langsung ke petani atau kelompok tani atau gabungan kelompok tani (gapoktan) dan menjual langsung ke konsumen.

Kompas TV Harga Bawang Melesat di Atas 100%



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X