Harga Gas di Singapura Ternyata Lebih Mahal Dibanding Indonesia

Kompas.com - 10/10/2016, 15:36 WIB
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginginkan harga gas untuk industri dapat turun menjadi 6 dolar Amerika Serikat per MMBTU (Million Metric British Thermal Unit) guna meningkatkan daya saing industri di Indonesia.

Harga tersebut dinilai paling pas di Indonesia yang notabene sepadan dengan negara-negara tetangga.

Namun rupanya Presiden Jokowi tidak mendapatkan informasi yang benar tentang harga gas industri di negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Thailand.

"Harga gas sebuah negara tidak bisa apple to apple dibandingkan. Misal harga gas di Singapura dengan di Indonesia, ataupun harga gas di Malaysia dengan di Indonesia," kata Pengamat Energi dari Reforminer Institute, Pri Agung Rakhmanto saat dihubungi, Senin (10/10/2016).

Menurutnya, harga gas di Malaysia sudah pasti lebih rendah karena adanya subsidi dari pemerintah. Ternyata di Singapura, sambung Pri Agung ada juga yang disubsidi, sedangkan yang tidak maka harganya jauh lebih mahal.

Mengutip harga gas di Singapura melalui citygas.com.sg dijelaskan harga gas rata-rata di negara tersebut per 1 Agustus sampai 31 Oktober 2016 termasuk pajak yang dijual ke konsumen mencapai 18,5 dolar per MMBTU.

Sedangkan harga gas di Malaysia karena adanya subsidi mencapai 6,6 dolar per MMBTU. Adapun di China harga gasnya sebesar 15 dolar per mmbtu dan di Thailand sebesar 7,5 dolar per MMBTU. Sementara harga gas di Indonesia sebesar 9 dolar per MMBTU.

"Jadi tolonglah siapapun yang menyampaikan informasi ke Presiden Jokowi jangan sepotong-sepotong seolah-olah harga gas kita paling tinggi," kata Pri Agung.

Pada intinya, di tengah menurunnya harga minyak dunia memang sudah sepantasnya harga gas turun namun tidak bisa seperti membalikkan telapak tangan dengan mematok harga. Pemerintah justru memiliki peranan besar yang menyebabkan harga gas tinggi.

(Baca: Jokowi "Ngotot" Harga Gas untuk Industri Maksimal 6 Dollar AS Per MMBTU)

Kompas TV Apa Dampak Holding BUMN Energi?
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.