Muhammad Sufyan
Dosen

Dosen Digital Public Relations Telkom University, Mahasiswa Doktoral Agama dan Media UIN SGD Bandung. Salah seorang pemenang call for paper Konferensi Nasional Tata Kelola Pemilu Indonesia KPU RI 2019.

Komunikasi Pemasaran dan "Public Relations" Kopi Lokal

Kompas.com - 11/01/2017, 21:02 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorTri Wahono

Dengan kultur masyarakat Indonesia mayoritas price sensitive, pada titik ini disampaikan bahwa menikmati kopi lokal di kedai kopi lokal jelas lebih ramah kantong namun kualitas kopi yang dirasakan setara bahkan lebih enak dari mereguk kopi impor di kedai kopi waralaba internasional.

Masyarakat, dengan teori atribusi ini, perlu digugah kesadaran bahwa menikmati kopi lokal adalah menyepakati banyak contoh gerakan cinta kopi lokal yang memang bertumpu pada sisi produk nyata lebih enak dengan harga lebih terjangkau.

Kedua, mengacu pada teori komunikasi pemasaran, bahwa keputusan pembelian berasal dari pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian, dan di akhir perilaku pasca-pembelian.

Dan pada hari-hari ini, saat era digital kekinian, maka konsumen lebih-lebih percaya dengan informasi yang diberikan orang terdekat karena dirasa akurat dan terpercaya. Sebab, komunikasi mulut ke mulut cenderung keluar alami dan jujur sehingga meneguhkan proses pembelian.

Zaman membuat konsep mulut ke mulut tersebut kini sudah banyak berganti menjadi electronic word of mouth (EWOM) --yang kita semua sudah sering terlibat di dalamnya-- berbentuk percakapan pada grup pesan instan/media sosial/blog/forum daring dan seterusnya.

Ada tiga dimensi terkait EWOM yakni intensity/seberapa sering membicarakan produk, valence of opinion/pendapat konsumen baik positif atau negatif mengenai produk, serta terakhir content/isi informasi situs jejaring sosial berkaitan produk (Goyette et al (2010: 11)

Karenanya, ketika media internet membuat konsumen bisa dengan mudah berbagi informasi pengalamannya atas suatu produk, dan atau konsumen mudah mencari informasi, maka tiga dimensi tadi harus dipastikan dalam fase berkualitas.

Bagi penulis, ini menjadi tugas penta helix (komunitas kopi, pebisnis, pemerintah, akademisi, hingga media massa) untuk sebanyak mungkin memproduksi konten konstruktif terkait kopi lokal di tanah air yang tengah bergairah ini.

Bagaimana bisa memunculkan valence of opinion EWOM positif sekira content minim? Tak mungkin terjadi valence of opinion EWOM apabila content sudah ada namun sebaran intensity-nya masih kurang. Bila hal ini bisa terjadi utuh berkat kerja sama penta helix tadi, maka brand image positif dan lebih unggul menjadi sebuah keniscayaan.

Akhir kata, dengan dua strategi tersebut, mari bersama jadikan kopi lokal dan kedai kopi lokalnya tumbuh menjadi kerangka rujukan konsumen. Rujukan di mana konsumen menempatkan merek pada citra utama, sehingga tren sekarang bisa terjaga lama --seawet banyak kedai kopi lokal peranakan di Indonesia. Semoga!

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.