40 Persen KUR Disalurkan ke Sektor Produktif, Ini Penjelasan BRI

Kompas.com - 01/02/2017, 11:01 WIB
Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI) Asmawi Syam  di Stasiun Juanda Jakarta, Senin (19/12/2016) Achmad Fauzi/Kompas.comDirektur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI) Asmawi Syam di Stasiun Juanda Jakarta, Senin (19/12/2016)
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah menetapkan 40 persen dari total penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada tahun ini harus diarahkan ke sektor produktif. Adapun target penyaluran KUR pada tahun 2017 mencapai Rp 110 triliun.

Lalu, mengapa sebenarnya penyaluran KUR pada tahun ini lebih digenjot untuk sektor produktif?

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Asmawi Syam menerangkan, hal ini tidak terlepas dari kondisi permintaan dan penawaran yang tidak seimbang di Indonesia.

Asmawi menerangkan, permintaan akan konsumsi di dalam negeri Indonesia sangat besar, mengingat pasar dalam negeri Indonesia sangat besar pula. Akan tetapi, permintaan untuk konsumsi yang besar ini tidak diimbangi dengan produksi yang memadai.

“Akhirnya impor, apa saja. Orang Indonesia menjadi sibuk berdagang dan impor,” ujar Asmawi di kantornya di Jakarta, Selasa (31/1/2017).

Asmawi menuturkan, dengan banyak dan melimpahnya penyaluran kredit kepada sektor perdagangan, pada akhirnya usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang ada di Indonesia bisa jadi hanya mencakup sektor perdagangan dan tidak ada yang bergerak di sektor produktif.

Hal ini tentu akan merugikan perekonomian nasional. Menurut Asmawi, dengan pergeseran fokus penyaluran KUR ke sektor produktif, maka Indonesia dapat sebisa mungkin memproduksi berbagai hal di dalam negeri.

Selain itu, penyaluran KUR ke sektor produktif lebih banyak memberikan dampak rentetan atau multiplier effect ketimbang penyaluran ke sektor perdagangan.

Tidak menutup kemungkinan bahwa ke depan porsi penyaluran KUR ke sektor produktif akan ditingkatkan, semisal menjadi 50 maupun 60 persen. Dengan demikian, permintaan dan penawaran di Indonesia akan seimbang, sama halnya dengan keseimbangan antara sektor perdagangan dan produktif.

“Kalau (penyaluran) KUR ke sektor produktif multiplier effect-nya lebih besar, dari mulai tenaga kerja atau proses produksinya,” jelas Asmawi.

Sekadar informasi, hingga akhir tahun 2016 BRI telah menyalurkan KUR dengan total nilai mencapai Rp 69,4 triliun kepada kurang lebih 3,9 juta debitor. Dengan demikian, BRI menyumbang 91,1 persen dari total penyaluran KUR nasional.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.