Survei: 55 Persen UMKM Omzetnya Naik Sejak Gabung Go-Food

Kompas.com - 22/04/2019, 13:48 WIB
Suasana di Go Food Festival GBK, Senayan, Selasa (24/7/2018).KOMPAS.com/Ardito Ramadhan D Suasana di Go Food Festival GBK, Senayan, Selasa (24/7/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Sebagian pengusaha usaha mikro, kecil, dan menengah ( UMKM) menganggap layanan Go-Food dari Go-Jek menguntungkan mereka dari segi omzet dan peningkatan skala bisnis.

Hasil survei Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) menunjukkan bahwa 55 persen responden UMKM mengalami kenaikan klasifikasi omzet sejak bergabung dengan Go-Food.

Survei ini merupakan bagian dari penelitian LD FEB UI yang berjudul “Dampak Go-Jek terhadap Perekonomian Indonesia pada Tahun 2018” yang dilakukan kepada 1,000 mitra UMKM GO-FOOD di 9 kota besar di Indonesia.

Wakil Kepala LD FEB UI Paksi C.K Walandouw mengatakan, penilaian UMKM ini didasarkan pada dampak positif yang dirasakan mitra UMKM yang bergabung dengan Go-Jek, mulai dari omzet hingga volume transaksi.

Baca juga: Ditantang Dosen Berbisnis, Pria Muda Ini Raup Omzet Ratusan Juta Rupiah

"Peningkatan klasifikasi omzet usaha ini menunjukkan UMKM yang bergabung dengan Go-Food mengalami perluasan pasar dan naik kelas, seperti dari mikro ke kecil dari kecil ke menengah," ujar Paksi dalam keterangan tertulis, Senin (22/4/2019).

Paksi mengatakan, jika UMKM naik kelas dan usahanya kian besar, maka mereka bisa menyerap tenaga kerja dan menyumbang lebih banyak kepada ekonomi daerah atau nasional.

Sementara 72 persen responden UMKM mengalami kenaikan klasifikasi omzet setelah mereka menggunakan aplikasi khusus manajemen merchant Go-Food. Sementara 93 persen responden UMKM mengalami peningkatan volume transaksi setelah mereka menggunakan aplikasi khusus manajemen merchant Go-Food.

Peningkatan volume dan omzet bisnis itu memacu mitra UMKM untuk terus mengembangkan usahanya. Hal ini ditunjukkan dari 85 persen responden UMKM yang menginvestasikan kembali pendapatannya dari Go-Food ke dalam usaha mereka.

Riset tersebut juga menunjukkan bahwa UMKM menilai positif prospek bisnis dengan Go-Food secara jangka panjang dibandingkan dengan layanan sejenis lainnya.

Hal ini ditunjang dengan hasil temuan survei, di mana sebesar 87 persen responden UMKM menilai layanan Go-Food lebih terpercaya dibandingkan kompetitor, 87 persen responden UMKM menilai layanan Go-Food lebih aman dibandingkan kompetitor, dan 90 persen responden UMKM bergabung menjadi mitra karena Go-Food sudah ada lebih lama di Indonesia dibandingkan kompetitor.

“Penilaian positif dalam prospek bisnis jangka panjang menyuratkan kepercayaan UMKM kepada platform teknologi seperti GOJEK yang membawa dampak positif berkelanjutan kepada bisnis mereka di tengah perubahan perilaku konsumen terutama di segmen generasi millenial dan generasi Z,” kata Paksi.

Di samping itu, lanjut Paksi, aspek teknologi Go-Food dinilai lebih superior sehingga menambah keyakinan dan kepercayaan UMKM terhadap layanan pesan antar-makanan ini.

Keutamaan teknologi Go-Jek di bisnis pesan-antar makanan online yang dinilai paling menguntungkan oleh para responden UMKM, tercermin dari beberapa temuan dalam riset LD FEB UI yaitu 92 persen responden UMKM bergabung karena layanan aplikasi manajemen merchant Go-Food yang memudahkan.

Khususnya teknologi yang memberikan informasi pesanan kepada merchant sebelum mitra driver datang, serta memberikan keleluasaan merchant untuk mengubah menu, harga, foto, dan jam operasional secara mandiri.

Kemudian, 92 persen responden UMKM bergabung karena kemudahan teknologi non-tunai Go-Pay yang membebaskan dari kebutuhan menyediakan uang kembalian. Selain itu, 87 persen responden UMKM bergabung karena teknologi keamanan Go-Food yang canggih, khususnya dengan menjamin keamanan transaksi dengan PIN antara mitra restoran dan mitra driver.

Paksi mengatakan, temuan ini mengindikasikan teknologi manajemen merchant menjadi kunci mengakselerasi pertumbuhan dan daya saing UMKM di era digital. Menurut dia, dalam menumbuhkan bisnis UMKM tidak cukup hanya membantu pelaku memperluas pasar, tetapi juga harus membangun ekosistem untuk perkembangan UMKM.

"Ini yang kami lihat di lakukan oleh Go-Jek dengan teknologi yang ditawarkan, yang dianggap responden cukup lengkap dari hulu ke hilir,” kata Paksi. 

Dalam survei terhadap 1.000 mitra UMKM Go-Food di 9 kota ini, pada 2018, diketahui bahwa mitra UMKM Go-Food berkontribusi sebesar Rp 18 triliun kepada perekonomian Indonesia. Dengan menggunakan metode perhitungan yang sama, kontribusi mitra UMKM GO-FOOD pada tahun 2017 adalah Rp 6,9 triliun.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X