Asosiasi: Industri Tembakau Alternatif Tumbuh Pesat

Kompas.com - 19/07/2019, 05:14 WIB
Salah satu anggota komunitas VapesquadIndo sedang menggunakan rokok elektrik (vaporizer) di toko The Colony Vape Bintaro, Kamis (25/8/2016). Tren rokok elektrik saat ini mulai menjadi gaya hidup baru dan menjadi alternatif bagi para perokok. RADITYO HERDIANTOSalah satu anggota komunitas VapesquadIndo sedang menggunakan rokok elektrik (vaporizer) di toko The Colony Vape Bintaro, Kamis (25/8/2016). Tren rokok elektrik saat ini mulai menjadi gaya hidup baru dan menjadi alternatif bagi para perokok.

JAKARTA, KOMPAS.com - Industri rokok elektrik terus bertumbuh pesat sejak dinyatakan legal oleh pemerintah pada 18 Juli 2018. Industri ini pun turut menyumbang penerimaan cukai bagi negara.

Ketua Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) Aryo Andrianto menyatakan, industri rokok elektrik tumbuh positif. Semua pihak, mulai dari produsen hingga pengecer, berusaha memajukan produk tembakau alternatif ini.

Aryo menuturkan, pertumbuhan industri ini juga tidak terlepas dari komitmen pelaku usaha untuk mematuhi peraturan pemerintah. Hasilnya, saat ini industri rokok elektrik telah memiliki 300 produsen likuid, lebih dari 100 produsen alat dan aksesoris, lebih dari 150 distributor dan importir, serta 5.000 pengecer.

“Kami berterima kasih kepada pemerintah yang turut menjaga kelangsungan dan perkembangan industri ini,” jelas Aryo dalam keterangannya, Kamis (18/7/2019).

Baca juga: Konsumen Diminta Hati-hati Beli Cairan Rokok Elektrik Tanpa Pita Cukai

Berkaitan dengan pemasaran dan penjualan, APVI juga hanya menjual produknya kepada pengguna rokok elektrik di atas usia 18 tahun ke atas. Asosiasi sangat ketat dalam melarang penggunaan rokok elektrik oleh anak di bawah umur.

"Toko-toko di bawah APVI harus punya peringatan 18+ dan no drugs. Kami juga sering melakukan sosialiasi kepada anggota APVI agar tidak menyalahgunakan rokok elektrik sebagai alat bantu narkoba,” kata Aryo.

Menurut dia, ndustri rokok elektrik siap membantu pemerintah dalam mendorong pertumbuhan perekonomian. Namun, APVI berharap pemerintah bersedia menurunkan tarif cukai rokok elektrik yang masuk kategori Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL).

Saat ini, produk HPTL dikenakan tarif cukai maksimal, yaitu 57 persen. Tarif yang tinggi, kata Aryo, dikhawatirkan akan menghambat pertumbuhan industri baru ini.

 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X