Produsen Pakan Ayam Bergantung pada Ketersediaan Jagung Lokal

Kompas.com - 20/08/2019, 15:46 WIB
Peternak Ayam Potong, di Desa Balubu, Kecamatan Belopa Utara, Kabupaten Luwu mengeluhkan anjloknya harga, Kamis (27/06/2019) KOMPAS.com/AMRAN AMIR Peternak Ayam Potong, di Desa Balubu, Kecamatan Belopa Utara, Kabupaten Luwu mengeluhkan anjloknya harga, Kamis (27/06/2019)

JAKARTA, KOMPAS.com - Country Director PT Cargill Indonesia Ivan Hindarko mengatakan, produsen pakan ayam petelur sangat bergantung pada keberadaan jagung lokal.

Untuk itu, masa low season atau masa di mana tidak terjadi panen menjadi kendala bagi produsen pakan ternak ayam.

Pasalnya, PT Cargill Indonesia, adalah salah satu perusahaan multinasional di bidang makanan dan pertanian yang 40-50 persen bahan bakunya menggunakan jagung.

"Jagung merupakan bahan baku yang sangat penting untuk industri pakan. Di perusahaan kami, bahan baku jagung mencapai 40-50 persen dari total komposisi. Makanya ketersediaan jagung menjadi hal krusial," kata Ivan Hindarko di Jakarta, Selasa (20/8/2019).

Baca juga: Dukung Efisiensi Biaya Peternak, Hadir Pakan Ayam Tanpa Antibiotik

Karena ketersediaan jagung menjadi hal yang sangat krusial bagi produsen pakan ayam, harga pakan ayam akan mengikuti ketersediaan jagung tersebut.

Harga pakan akan lebih murah di masa panen raya ketimbang low season.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Masa panen lokal dari Februari sampai April. Panen lebih kecil di Juli-Agustus. Kemudian panen ketiga di Bulan Desember. Karena masa panen lokal di Indonesia dari Februari-April, makan harga akan jauh lebih murah," ungkap Ivan.

Namun demikian, Ivan tak memungkiri, hal tersebut memang harus dilalui pebisnis.

Untuk membuat bisnis konsisten, pihaknya bakal berusaha memenuhi kebutuhan jagung meski pada masa jagung minim.

Baca juga: Langka Pakan Ternak, Kementan Distribusikan Jagung ke Peternak Rakyat

Namun, dia juga tetap akan mematuhi peraturan pemerintah terkait larangan impor jagung.

"Ini memang yang harus kita lalui sebagai pebisnis. Sehingga pada masa low season jagung kita tetap akan berusaha memenuhi kebutuhan pangan dengan harga yang terjangkau. Kita juga akan melihat alternatif lain. Tapi di sisi lain kita mematuhi peraturan pemerintah yang melarang impor jagung," pungkas Ivan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.