Perang Dagang AS-China Bisa Rugikan Rumah Tangga di AS Rp 14 Juta Per tahun

Kompas.com - 21/08/2019, 11:32 WIB
Ilustrasi perang dagang shutterstock.comIlustrasi perang dagang

NEW YORK, KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan jajarannya terus mengatakan perang dagang yang terjadi antara AS dan China tak akan merugikan konsumen Negara Paman Sam tersebut.

Namun, analis tak sepakat dengan hal itu. Seperti dikutip dari CNN, Rabu (21/8/2019), tarif yang diberlakukan Trump untuk produk impro asal China telah membebani rumah tangga AS rata-rata sebesar 600 dollar AS atau setara dengan Rp 8,4 juta (kurs: Rp 14.000) per tahun.

Data yang didasarkan pada laporan JP Morgan tersebut juga menyebutkan, angka kerugian tersebut bakal meningkat menjadi 1000 dollar AS atau setara dengan Rp 14 juta per tahun jika Trump akhirnya memutuskan untuk menerapkan tarif untuk 300 miliar dollar AS produk impor asal China.

Perkiraan angka tersebut menunjukkan bahwa Presiden trump tengah bermain api jika semakin memperluas perang dagang antara kedua negara perekonomian terbesar di dunia dengan menerapkan tarif untuk produk konsumer termasuk televisi, konsol video game, TV dan pakaian jadi.

"Tarif tersebut bakal berpengaruh signifikan terhadap kantong konsumen seiring dengan pemilihan umum yang bakal dilaksanakan pada 2020," ujar Equity Strategist JPMorgan Dubravko Lakos-Buahs dalam laporan tersebut.

Baca: Di Tengah Perang Dagang, Ekonomi Taiwan Malah Bergairah

Dia mengatakan, penerapan tarif terhadap produk China bakal menghapus sebagian besar keuntungan yang didapat dari penghapusan pajak rumah tangga oleh Partai Republik.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pandangan JPMorgan tersebut didasarkan pada studi New York Federal Reserve yang sangat berbeda dengan apa yang telah dikatakan oleh pemerintahan Presiden Trump.

"Konsumen belum terugikan. China lah yang menanggung seluruh beban (perang dagang)," ujar Penasihat Gedung Putih Peter Navarro.

Selain itu, aksi saling balas antara Amerika Serikat dan China berisiko memperparah perlambatan pertumbuhan ekonomi yang bakal mengarah ke resesi.

Risiko tersebut telah menimbulkan gejolak di pasar saham dan mendorong investor untuk menanamkan dananya di pasar obligasi.

"Ekonomi yang kuat bisa menjadi rentan terhadap resesi sebagai akibat dari kebijakan yang proteksionis dan perang dagang," ujar Chief Global Market Strategist Invesco Kristina Hooper.

Banyak pihak, termasuh para pengusaha Amerika setuju dengan tujuan pemerintahan Trump untuk membuat Cina bermain adil dalam perdagangan. Namun, ada kekhawatiran yang berkembang tentang penggunaan tarif sebagai alat negosiasi.

Dua putaran pertama tarif pada China sebagian besar menargetkan suku cadang dan barang setengah jadi lainnya. Namun, dampaknya terhadap rumah tangga masih signifikan karena tarif yang dikenakan sebesar 25 persen.

Lebih lanjut, Presiden Trump pun meningkatkan ketegangan perdagangan dengan Cina bulan ini dengan menyatakan bakal mengenakan tarif sebesar 10 persen pada 300 miliar dollar AS impor AS dari China pada 1 September. Putaran ketiga dari tarif ini mencakup sejumlah besar barang-barang konsumen.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber CNN
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.