Menurut Nadiem, Ini Keluhan Anak Muda Saat Pertama Bekerja

Kompas.com - 28/11/2019, 13:32 WIB
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim ketika memberi paparan dalam KOMPAS100 CEO Forum di Jakarta, Kamis (28/11/2019). KOMPAS.COM/MUTIA FAUZIAMenteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim ketika memberi paparan dalam KOMPAS100 CEO Forum di Jakarta, Kamis (28/11/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim membeberkan keluhan-keluhan yang kerap diutarakan oleh pekerja muda yang baru mulai bekerja.

Mantan CEO Gojek tersebut mengatakan, para anak muda yang baru pertama kali bekerja umumnya akan memiliki keluhan yang sama, yaitu seputar skill, disiplin, hingga kemampuan berpikir.

"Komplainnya sama, yakni anak-anak muda kalau masuk ke dunia kerja komplainnya sama, yakni nggak bisa komunikasi dengan baik, skill-skill dalam melakukan kolaborasi kurang baik, kurang baik dari sisi disiplin diri, tepat waktu, follow up suatu penugasan, dan dia tidak bisa buat keputusan secara mandiri. Itu isu-isu yang dihadapi," ujar dia dalam acara KOMPAS100 CEO Forum di Jakarta, Kamis (28/11/2019).

Dia pun mengatakan, isu-isu tersebut tidak hanya dikeluhkan oleh anak muda dalam negeri, namun juga anak muda di negara lain bahkan di Amerika Serikat.

Baca juga: Bertemu Sri Mulyani, Nadiem Salah Tingkah..

Dalam dunia pendidikan Indonesia saat ini, Nadiem memaparkan belum mengakomodir keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja.

Untuk itu, ada dua hal yang harus diperbaiki dari sistem pendidikan RI, yaitu sistem organisisasi sekolah, dan yang kedua kualitas pengajar atau guru.

"Makannya arahan Presiden lakukan deorganisasi, yakni mengurangi aturan organisasi dan tingkatkan SDM. Caranya kita buat flexibility dari kurikulum dan sekolah tersebut," ujar Nadiem.

Selain itu menurut dia, pihak swasta dan masyarakat, guru, serta orang tua siswa juga harus terlibat akti dalam perubahan sistem pendidikan yang sedang dia upayakan.

"Kalau guru dan orang tua tidak bergerak dulu maka program ini akan gagal, dimana yang dibutuhkan adalah gerakan, bukan hanya kebijakan. Kemendikbud hanya memfasilitasi," ujar dia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X