Dampak Corona, Pebisnis Berharap Situasi Kembali Normal pada Awal September

Kompas.com - 20/04/2020, 12:41 WIB
Ilustrasi virus corona yang merebak di Indonesia. ShutterstockIlustrasi virus corona yang merebak di Indonesia.

JAKARTA, KOMPAS.com - Riset SurveySensum mencatat selama sebulan terakhir mulai 27 Maret hingga 6 April 2020, sebesar 74 persen perusahaan mengungkapkan bisnisnya sangat terganggu sejak merebaknya virus corona (Covid-19) di Indonesia.

Sekitar 62 persen di antaranya mengakui pendapatan perusahaannya menurun drastis. Mereka berharap September 2020 kondisi Indonesia bisa mulai pulih.

“Sentimen pelaku industri memang lebih skeptis dibanding konsumen. Sementara konsumen berharap Covid-19 tuntas di akhir Mei, para pebisnis memperkirakan situasi ini akan kembali normal setidaknya lima bulan dari sekarang, yaitu di awal bulan September,” kata CEO SurveySensum dan NeuroSensum Rajiv Lamba, melalui keterangan tertulis, Senin (20/4/2020).

Survei yang dilakukan terhadap pelaku industri lintas sektor tersebut menunjukkan bahwa penurunan pendapatan dialami oleh perusahaan di semua sektor. Setidaknya 54 persen perusahaan fast moving consumer good (FMCG) pun turut mengalami penurunan pendapatan meski tak sebesar sektor lain.

Baca juga: Musim PHK, Perusahaan Ini Justru Akan Rekrut 50.000 Pekerja

Rajiv menjelaskan, para pelaku industri telah melakukan berbagai strategi untuk melakukan penghematan, terutama dengan memangkas sejumlah komponen anggaran perusahaan. Salah satu komponen anggaran yang dipangkas adalah sumber daya manusia.

Riset yang dilakukan SurveySensum dengan mewawancarai CEO, vice president, direktur hingga manajer ini menunjukkan, sebesar 56 persen perusahaan berhenti merekrut karyawan baru hingga waktu yang belum ditentukan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Bahkan 10 persen perusahaan terpaksa melakukan pengurangan karyawan untuk mengurangi beban operasional perusahaan.

“Meski demikian, ada 34 persen perusahaan yang masih menerima tenaga baru, namun terbatas pada posisi-posisi penting saja,” ujarnya.

Selain sumber daya manusia, perusahaan juga memangkas anggaran promosi dan periklanan. Sebanyak 55 persen perusahaan memotong anggaran promosi Below The Line (BTL) termasuk pemasangan billboards dan iklan-iklan di luar ruangan. Pemotongan anggaran promosi Above The Line (ATL) termasuk iklan televisi dan radio juga dilakukan oleh 33 persen responden bisnis.

Tak berhenti di pemotongan anggaran iklan, 42 persen perusahaan menunda berbagai kegiatan aktivasi dan kampanye penjualan produk-produk mereka. Sebagai efek domino, anggaran riset pemasaran pun jadi sasaran penghematan 24 persen perusahaan.

Baca juga: Pandemi Covid-19, Perusahaan Negara Ini Tetap Rampungkan Pekerjaan




Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.