PSBB Diperluas, Konsumsi di Kuartal II Semakin Tertekan

Kompas.com - 06/05/2020, 15:51 WIB
Konsumsi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan ekonomi yang dilakukan manusia. shutterstock.comKonsumsi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan ekonomi yang dilakukan manusia.

JAKARTA, KOMPAS.com - Berdasarkan data terkini Badan Pusat Statistik (BPS), pada kuartal I 2020, pertumbuhan konsumsi masyarakat tertekan menjadi hanya 2,84 persen (year on year/yoy).

Angka tersebut jauh melambat jika dibandingkan dengan realisasi periode yang sama tahun lalu yang mencapai 5,02 persen (yoy).

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pun mengatakan, pertumbuhan konsumsi bakal kembali tertekan di kuartal II tahun ini. Sebab, pemerintah memperluas pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB) tak hanya di Jabodetabek, namun juga wilayah lain di Indonesia.

Baca juga: Konsumsi Listrik Turun, PLN Pastikan Tidak Tunda Pembayaran Utang

"Kuartal II kita harus antisipasi lagi jatuhnya, karena kan PSBB-nya sudah meluas, yang kemarin itu masih di Jabodetabek itu langsung turun 2,84 persen, itu jauh dari perkiraan awal," ujar Sri Mulyani saat rapat kerja virtual dengan Komisi XI DPR RI, Rabu (6/5/2020).

Kontribusi

Sebagai informasi, konsumsi rumah tangga berkontribusi sebesar 58,14 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) selama kuartal I 2020.

Sri Mulyani mengilustrasikan, jika melihat data tahun lalu, nilai konsumsi rumah tangga RI mencapai Rp 9.000 triliun, dengan Pulau Jawa menyumbang sebesar 55 persen.

Padahal, Jawa merupakan salah satu wilayah yang paling terdampak Covid-19. Artinya, nilai konsumsi yang sebagian besar dikontribusikan oleh Jawa tidak akan bisa mencapai realisasi yang sama seperti tahun lalu.

"Orang kalau di rumah cuma makan saja, tidak keluar transport. Kalau tahun lalu kan konsumsi itu Rp 9.000 triliun lebih, Pulau Jawa 55 persen, lebih dari Rp 5.000 triliun. Sekarang kalau Rp 5.000 triliun di rumah, ya tidak akan sampai, makanya presiden bilang fokusnya ke situ," jelas dia.

Konsumsi Merosot

Sebelumnya, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Febrio Nathan Kacaribu mengatakan, merosotnya konsumsi rumah tangga disebabkan oleh Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Peningkatan konsumsi kesehatan, pendidikan, perumahan, serta perlengkapan rumah tangga, ternyata tidak mampu mengimbangi penurunan konsumsi pakaian, alas kaki, jasa perawatan serta transportasi dan komunikasi.

“Dalam kondisi pembatasan aktivitas, masyarakat mengurangi konsumsi barang-barang kebutuhan nonpokok. Sinyal pelemahan konsumsi ini juga terlihat pada menurunnya indeks keyakinan konsumen dan penjualan eceran pada Maret 2020 sebesar -5,4 persen (yoy),” ujar Febrio dalam keterangannya, Selasa (5/5/2020).



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X