DPR: Tak Ada Artinya Pertumbuhan Ekonomi Bila Terjangkit Covid-19

Kompas.com - 26/05/2020, 14:40 WIB
Ilustrasi virus corona, vaksin virus corona ShutterstockIlustrasi virus corona, vaksin virus corona

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Ketua Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR RI Achmad Dimyati Natakusumah menyebut, virus corona atau Covid 19 merupakan the silent enemy yang harus dibasmi dari muka bumi ini, khususnya Indonesia.

Oleh sebab itu, dia menolak berdamai dengan virus corona, apalagi hidup berdampingan seperti yang selama ini digaungkan oleh pemerintah untuk menghadapi kenormalan baru atau new normal.

“Tidak ada artinya kemajuan pertumbuhan ekonomi dan lain-lain bila manusia di muka bumi ini musnah secara perlahan lahan, dan binasa semua karena terjangkit dan dikuasai Covid-19," katanya melalui keterangan tertulis, Selasa (26/5/2020).

Baca juga: Mulai 1 Juni, Ini Skenario Tahapan New Normal untuk Pemulihan Ekonomi

"Prioritas saat ini adalah bagaimana Covid-19 segera lenyap dan binasa dalam waktu yang cepat dan tepat. Semoga Indonesia bisa sukses dalam peperangan melawan Covid-19 ini,” tegasnya.

Menurutnya, untuk memenangkan peperangan melawan Covid-19 ini diperlukan perencanaan yang matang serta kekompakan seluruh elemen masyarakat untuk berpartisipasi.

Untuk menyukseskan perencanaan tersebut maka diperlukan anggaran yang cukup dan menyeluruh dengan prinsip efesien dan efektif.

Anggaran tersebut diantaranya untuk membiayai kebutuhan sosialisasi, sandang, pangan, vitamin, insentif bagi petugas, serta imunisasi dan juga untuk rapid test, swab, hingga untuk membiayai kebutuhan karantina sampai dengan masalah pemakaman.

Baca juga: Pengusaha Ritel Tunggu Mekanisme Aturan New Normal

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Nihayatuh Wafiroh mengingatkan agar aturan "new normal" tidak tumpang tindih dengan aturan yang sudah ada. Termasuk, protokol Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk memutus rantai penyebaran Covid-19.

"Kita berharap peraturan ini tidak seperti peraturan-peraturan sebelumnya yang satu tumpang tindih, yang kedua terkesan sering berubah-ubah," ujarnya.

Ia memahami langkah pemerintah menerapkan kebijakan "new normal" karena dampak dari Covid-19 terhadap perekonomian, sosial dan sebagainya sangatlah besar.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X