Sri Mulyani: di Negara Lain Kontraksi Ekonomi Bisa Puluhan Persen

Kompas.com - 22/08/2020, 20:01 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (24/2/2019). KOMPAS.COM/MUTIA FAUZIAMenteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (24/2/2019).
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Perekonomian global mengalami pukulan telak akibat pandemi Covid-19. Hal tersebut terefleksikan dengan terkontraksinya pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) di berbagai negara, tidak terkecuali Indonesia.

Pada kuartal II-2020, ekonomi Indonesia minus 5,32 persen. Realisasi tersebut menjadi kontraksi yang paling dalam sejak kuartal I-1999.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui, pandemi Covid-19 telah memberikan dampak signifikan terhadap kondisi perekonomian nasional.

Baca juga: Insentif untuk UMKM, dari Subsidi Bunga hingga KUR Mikro

Kendati demikian, realisasi pertumbuhan ekonomi nasional dinilai masih lebih baik dibandingkan beberapa negara lain. Pasalnya, beberapa negara mencatakan pertumbuhan ekonomi yang lebih dalam dibandingkan RI.

"Di negara lain kontraksinya bisa dalam sekali di atas belasan bahkan puluhan persen," ujar Sri Mulyani dalam sebuah diskusi virtual, Sabtu (22/8/2020).

Oleh karena itu ucapnya, guna mencegah terjadinya resesi, pemerintah telah melakukan berbagai kebijakan yang ditujukan untuk mendongkrak perekonomian nasional.

Berbagai kebijakan tersebut dilaksanakan dengan penganggaran Rp 695 triliun untuk pemulihan ekonomi nasional (PEN) tahun ini.

Baca juga: Subsidi Gaji Karyawan Dipastikan Cair pada 25 Agustus 2020

"Itu merupakan suatu apa yang disebut wadah awal, namun isinya kita masih bisa terus melakukan kalibrasi," katanya.

Lebih lanjut, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia yang akrab disapa Ani itu menjabarkan, program-program yang telah dilaksanakan pemerintah melalui anggaran tersebut antara lain, bantuan produktif untuk 9 juta pelaku usaha kecil menengah, hingga subsidi gaji yang akan diberikan kepada karyawan dengan gaji di bawah Rp 5 juta per bulan.

"Ini tujuannya supaya ekonomi enggak berhenti saja karena kalau begitu dia berhenti dan kemudian jatuh, dalam hal ini perusahaan-perusahaan menjadi bangkrut, suasana atau tantangannya akan menjadi berbeda sama sekali," ucapnya.

Baca juga: Insentif Pajak untuk Industri Media Segera Rilis



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X