BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Intel

Ini Masalah yang Kerap Dihadapi Pekerja Kreatif

Kompas.com - 11/09/2020, 11:17 WIB
Ilustrasi pekerja kreatif Dok. ShutterstockIlustrasi pekerja kreatif
|

KOMPAS.com - Adhiguna Ilyasa (29) atau yang akrab disapa Dhigun adalah seorang fotografer sekaligus videografer lepasan asal Bandung.

Bisa dikatakan, Dhigun bekerja sesuai dengan passion atau hobinya. Sebab, ia telah menekuni bidang ini sejak duduk di bangku SMA belasan tahun silam.

Jika melirik portofolionya, Dhigun memiliki spesialisasi di bidang fashion dan beauty. Meski demikian, ia pun menerima proyek di bidang-bidang lain, seperti pre-wedding.

Selain di tempat syuting atau pemotretan, tempat kerja Dhigun berpindah-pindah. Saat membuat konsep atau meeting dengan klien, ia biasa bekerja di kafe atau kedai kopi favoritnya. Namun, ia lebih sering di rumah untuk proses editing foto dan video.

Dhigun punya jam kerja yang fleksibel. Ada kalanya pukul 10 pagi ia masih tertidur lelap. Namun, tak jarang pula ia harus bangun di pagi buta untuk mengambil gambar di lokasi syuting.

Baca juga: Melihat Peluang Freelance, Siapa Tahu Itu Masa Depanmu...

Perkara penghasilan pun tidak bisa diremehkan. Jika pesanan sedang ramai, Dhigun bisa mengantongi belasan hingga puluhan juta setiap bulannya.

Ya, Dhigun adalah satu dari sekian banyak anak muda Indonesia yang berkecimpung di industri kreatif. Mereka yang bekerja di bidang itu disebut pekerja kreatif. Secara garis besar, pekerja kreatif menciptakan suatu hal yang inovatif dengan kreativitas mereka masing-masing.

Industri kreatif jadi salah satu bidang yang banyak diminati saat ini, terutama oleh kaum milenial. Industri itu mencakup berbagai sektor, mulai dari periklanan, desain, media, seni pertunjukan, film, musik, fesyen, dan lain sebagainya.

Pekerjaan tersebut banyak diminati karena bisa terbebas dari aturan-aturan yang biasa mengikat “pekerja kantoran”. Misal saja, aturan pakaian yang lebih bebas, jam kerja yang lebih fleksibel, atau bisa bekerja di mana saja atau dikenal dengan istilah remote working.

Selain itu, pekerja kreatif dapat menghasilkan pundi-pundi pemasukan dari bidang yang menjadi passion mereka.

Baca juga: Ini 5 Pekerjaan Freelance yang Bergaji Miliaran Rupiah

Meski terdengar menyenangkan, pekerja kreatif juga tidak luput dari masalah dalam menjalankan pekerjaannya. Berikut adalah masalah-masalah yang biasa dihadapi oleh pekerja kreatif.

1. Sulit atur waktu

Bekerja di industri kreatif tampak menyenangkan dan mudah. Tak perlu susah payah bangun di pagi hari dan menerjang kemacetan lalu lintas di jam-jam sibuk. Fleksibilitas waktu membuat para pekerja kreatif bisa memulai pekerjaan kapan pun mereka mau.

Meski demikian, pekerja kreatif belum tentu dapat berleha-leha dalam menyelesaikan pekerjaannya. Sebab, mengatur jam kerja secara mandiri bukan perkara mudah. Apalagi jika sedang terlibat di beberapa proyek sekaligus. Tak sedikit pekerja kreatif yang memiliki jam kerja lebih banyak ketimbang pekerja kantoran.

Maka dari itu, para pekerja kreatif dituntut untuk memiliki kemampuan manajemen waktu yang baik. Dengan demikian, pekerjaan bisa diselesaikan secara lebih efektif dan sesuai deadline yang telah disepakati.

2. Sejuta revisi

Para pekerja kreatif tentu sangat familiar dengan istilah revisi. Aktivitas perbaikan pekerjaan agar sesuai kemauan klien ini kerap jadi momok menakutkan dan tidak terpisahkan dari setiap proyek.

Baca juga: Pekerja Kreatif Menjadi Penggerak Ekonomi Indonesia di Masa Depan

Pasalnya, tak jarang proses revisi harus dilakukan berkali-kali sampai menemukan kata sepakat dengan klien.

Proses ini semakin diperunyam dengan komunikasi yang tidak mulus antara klien dan pekerja kreatif sehingga makin lama dan melelahkan.

Tidak heran muncul ungkapan “sejuta revisi” di kalangan pekerja kreatif.

3. Koneksi internet bermasalah

Selain fleksibilitas waktu, keuntungan lain menjadi pekerja kreatif adalah bisa bekerja di mana saja. Selama ada koneksi internet, mereka bisa bekerja di rumah, kedai kopi, atau tempat lain yang dirasa nyaman untuk bekerja.

Meski tampak menyenangkan, fleksibilitas tempat kerja juga memiliki hambatan tersendiri. Salah satunya adalah koneksi internet yang bermasalah. Tak jarang saat sedang fokus mencari inspirasi kreatif di internet atau mengirim file pekerjaan, koneksi internet tiba-tiba “lemot” atau putus.

Hal tersebut menghambat produktivitas para pekerja kreatif. Selain repot karena harus pindah tempat, permasalahan internet pun kerap membuat jam kerja menjadi lebih lama dari perencanaan awal.

4. Alat kerja “lemot”

Para pekerja kreatif yang memiliki fleksibilitas waktu dan tempat kerja tentu akan bergantung pada laptop sebagai alat kerja utama. Namun, tak jarang performa laptop makin menurun karena terlalu lama dan sering digunakan.

Baca juga: Cara untuk Meningkatkan Performa PC dan Laptop Windows 10

Hal tersebut menimbulkan masalah bagi para pekerja kreatif. Sebab, produktivitas kerja otomatis turun jika performa alat yang digunakan lambat, apalagi saat terlibat di beberapa proyek besar dengan beban kerja tinggi. Bisa-bisa banyak pekerjaan molor karena laptop yang dimiliki tidak mumpuni.

Oleh karena itu, penting bagi para pekerja kreatif untuk memiliki laptop yang dapat diandalkan. Salah satu indikator utama dalam menilai kualitas laptop adalah prosesor.

Seperti diketahui, prosesor merupakan komponen yang berfungsi untuk memproses data, mengontrol sistem, serta menjalankan “perintah” dari pengguna komputer. Komponen ini bahkan disebut sebagai otak dari komputer.

Jika kamu seorang pekerja kreatif dengan mobilitas tinggi, kamu memerlukan laptop yang ditenagai prosesor berkualitas dengan teknologi terbaru. Contohnya adalah Intel 10th Gen. Ice Lake.

Prosesor tersebut dilengkapi dengan teknologi artificial intelligence (AI) pada fitur Intel DL Boost (Deep Learning Boost). Teknologi AI ini akan sangat membantu berbagai aktivitas kreatif menjadi lebih mudah dan cepat.

Baca juga: Prosesor Intel Core Generasi ke-10 Meluncur

Fotografer, misalnya, tidak perlu repot untuk retake adegan jika foto yang diambil sedikit buram. Sebab, laptop berprosesor Intel 10th Gen. Ice Lake sudah dilengkapi aplikasi Topaz Gigapixel yang terintegrasi dengan teknologi AI. Aplikasi ini mampu menghilangkan keburaman pada foto dengan mudah.

Selain itu, baik fotografer maupun desainer grafis juga akan terbantu dalam proses editing di Adobe Photoshop 2020. Pasalnya, ketimbang menggunakan lasso tool secara manual, kini untuk crop subjek foto atau gambar cukup sekali klik di aplikasi tersebut.

Para pekerja kreatif juga dapat meeting online dengan tenang tanpa khawatir koneksi internet yang lambat. Kehadiran fitur Intel WiFi-6 (Gig+) pada Intel 10th Gen. Ice Lake mampu menyajikan akses internet tiga kali lebih cepat ketimbang prosesor dengan WiFi 5.

Selain itu, meeting online pun semakin nyaman jika menggunakan Microsoft Teams atau Google Meeting. Teknologi AI yang terintegrasi pada aplikasi tersebut mampu mengaburkan latar belakang dan mengurangi kebisingan.

Baca juga: Cara Mudah Menggunakan Google Meet di Smartphone dan PC

Bagi videografer, laptop berposesor Intel 10th Gen. Ice Lake bakal memudahkan proses konversi, rendering, dan export video secara lebih cepat berkat fitur Intel Quick Sync. Jadi, tak ada lagi kisah jadwal preview video pada klien molor karena proses rendering yang lambat.

Selain itu, proses transfer file berukuran besar yang biasanya membutuhkan waktu lama pun bisa dilakukan lebih cepat. Hal ini berkat port Universal Serial Bus (USB) type-C Thunderbolt 3.0 yang disematkan di laptop berprosesor Intel 10th Gen. Ice Lake.

Port USB terbaru tersebut punya kecepatan transfer data hingga 40 GB per detik.

Pekerja kreatif makin dimanja lewat fitur Support Intel Optane Memory. Fitur ini dapat mengakselerasi kinerja hard disk drive (HDD) dan solid-state drive (SDD). Kerja jadi makin gesit dan taktis.

Tak hanya performa yang ciamik, Intel 10th Gen. Ice Lake juga memiliki kemampuan grafis menawan layaknya graphics processing unit (GPU) terpisah. Terlebih, untuk seri G4 dan G7 terdapat fitur IRIS Plus Graphics.

Dengan fitur tersebut, para sutradara, creative director, videografer, dan pekerja kreatif lainnya dapat menyaksikan preview video hasil kerja dengan kualitas 4K HDR dan resolusi hingga 1080p.

Baca juga: Prosesor Intel Core S-Series Tembus Kecepatan 5,3 GHz

Selain untuk bekerja, kualitas grafis yang menawan ini bisa dimanfaatkan untuk menikmati konten-konten hiburan, seperti streaming film atau bermain game dengan kualitas maksimal. Berbagai game terbaru dan “berat” seperti Battlefield V dan PES 2020 dapat dimainkan dengan lancar tanpa lag dan stutter.

Itulah sederet kelebihan yang ditawarkan prosesor Intel 10th Gen. Ice Lake. Dengan memiliki alat kerja yang mumpuni dan dapat diandalkan, kamu sebagai pekerja kreatif bisa lebih produktif dan nyaman saat berkarya.

Oleh karena itu, pilih perangkat laptop yang ditenagai Intel 10th Gen. Ice Lake. Kamu bisa menemukan prosesor ini di beberapa laptop, seperti ASUS A413, Acer Swift 3, Lenovo Slim 5, hingga HP Pavilion x360.

Kamu bisa membeli laptop-laptop tersebut di berbagai e-commerce, seperti JD.id, Blibli, Tokopedia, dan Shopee.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya