Kompas.com - 05/10/2020, 17:48 WIB
Anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Tirta Segara saat berdiskusi dengan jurnalis, Sabtu (14/7/2018). KOMPAS.com/ Bambang P. JatmikoAnggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Tirta Segara saat berdiskusi dengan jurnalis, Sabtu (14/7/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK, Tirta Segara mengatakan, inklusi keuangan diharapkan menjadi solusi jitu untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional akibat pandemi Covid-19.

Tirta menilai, inklusi keuangan dianggap memiliki peranan penting dan strategis saat pandemi berlangsung, utamanya saat Indonesia tengah dihadapkan pada krisis saat ini.

Peran tersebut meliputi meningkatkan dan memeratakan kesejahteraan masyarakat, menjangkau masyarakat di berbagai pelosok yang membutuhkan bantuan keuangan, serta meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat dengan cara menumbuhkan permintaan.

Baca juga: Kemenko Perekonomian: Inklusi Keuangan Berperan Penting dalam Pemulihan Ekonomi

"Ada tiga alasan utama mengapa inklusi keuangan menjadi krusial dalam pencapaian tujuan makroekonomi dan sekaligus menjawab tantangan tersebut," kata Tirta dalam pembukaan Bulan Inklusi Keuangan virtual, Senin (5/10/2020).

Pertama, inklusi keuangan diyakini sejalan dan berkorelasi positif dengan pertumbuhan ekonomi. Meluasnya akses keuangan dapat mengurangi ketimpangan kesejahteraan masyarakat.

Saat ini, tingkat inklusi keuangan nasional sudah berada di level 76,2 persen. Namun, tingkat inklusi keuangan belum merata, sebab akses keuangan di wilayah perkotaan (83,6 persen) masih lebih tinggi daripada di wilayah pedesaan (68,5 persen).

Sementara itu, Presiden Jokowi pada Rapat Terbatas SNKI pada Januari 2020 telah menetapkan pencapaian target 90 persen inklusi keuangan di tahun 2024.

"Oleh karena itu, kami terus fokus melakukan intensifikasi edukasi dan literasi keuangan terutama kepada generasi muda agar ke depan mereka lebih memahami dan mengerti produk/jasa keuangan," ujar Tirta.

Kedua, inklusi sangat berperan dalam proses pemulihan ekonomi, untuk memastikan kelancaran pemberian dukungan finansial bagi seluruh masyarakat di masa pandemi.

Dengan begitu, negara dengan tingkat inklusi keuangan yang tinggi akan dengan mudah memetakan dan menyalurkannya pada masyarakat yang membutuhkan. Perluasan akses pembiayaan dan permodalan pun lebih mudah dan terjangkau bagi masyarakat.

"Di era adaptasi kebiasaan baru, saat contactless economy berlaku, go digital menjadi krusial untuk tetap dapat bertahan dan menjawab kebutuhan masyarakat," papar Tirta.

Kemudian yang ketiga, inklusi keuangan berperan dalam stabilitas ekonomi. Inklusi keuangan mampu mendukung ketahanan ekonomi masyarakat dalam situasi dan kondisi apapun.

Peningkatan kemampuan keuangan akan membantu masyarakat dan pelaku usaha bertahan dalam menghadapi tekanan ekonomi. Hal ini memungkinkan mereka untuk lebih bersiap diri dalam menavigasi krisis keuangan yang sedang dan akan dihadapi.

"Kami berharap, dengan tersedianya dan dimanfaatkannya produk/layanan keuangan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat akan dapat menggerakkan kembali aktivitas ekonomi masyarakat agar dapat bangkit dari kondisi ekonomi saat ini," pungkas Tirta.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X