Rizal Ramli Tak Terkejut Jokowi Sebut Ekonomi Kuartal III Minus 3 Persen

Kompas.com - 03/11/2020, 12:50 WIB
Mantan Menko Maritim Rizal Ramli (kanan) memberikan keterangan pers saat melakukan pelaporan terkait pencemaran nama baik dirinya oleh Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh, di Bareskrim Polri, Gambir, Jakarta, Selasa (16/10/2018). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/hp. Aprillio AkbarMantan Menko Maritim Rizal Ramli (kanan) memberikan keterangan pers saat melakukan pelaporan terkait pencemaran nama baik dirinya oleh Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh, di Bareskrim Polri, Gambir, Jakarta, Selasa (16/10/2018). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/hp.

JAKARTA, KOMPAS.com - Ekonom senior Rizal Ramli menilai, pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2020 yang diperkirakan masih negatif dan membuat Indonesia resmi masuk dalam jurang resesi bukanlah sesuatu yang mengejutkan.

Menurut Rizal Ramli, sejak awal tim ekonomi Presiden Jokowi memang tidak memiliki terobosan dalam membangkitkan perekonomian yang tengah terpuruk.

"Tidak ada surprise sudah diperkirakan sejak awal tahun 2020, karena kebijakan ekonomi super konservatif dan neoliberal yang sudah gagal," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (3/11/2020).

Baca juga: Daftarkan Judicial Review ke MK, KSPI: Isi UU Cipta Kerja Hampir Seluruhnya Rugikan Buruh

Dia justru mempertanyakan apa yang akan dilakukan Jokowi untuk menangani resesi tersebut. Apakah akan mengulangi cara yang sama atau akan mengubah strategi dengan mengganti para menteri ekonominya. 

Rizal Ramli sebelumnya telah menyatakan bahwa perekonomian Indonesia sudah masuk dalam resesi sejak kuartal II tahun 2020. Penilaiannya didasarkan pada rumusan yang lazim di dunia internasional.

Mantan Menko Perekonomian saat Pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur ini juga telah membaca sejumlah indikator yang menunjukkan bahwa kondisi ekonomi di Indonesia melemah terlepas ada atau tidaknya pandemi Covid-19.

"Sejak satu setengah tahun yang lalu, kami sudah ingatkan bahwa ada indikator-indikator yang menunjukkan ekonomi Indonesia mengalami perlambatan baik secara makro eknomi dengan menggunakan indikator misalnya trade surplusnya makin mengecil," kata dia.

Baca juga: Negosiasi Kesepakatan GSP Indonesia-AS Alot 2,5 Tahun, Ini Alasannya

Selain itu Rizal juga menyoroti transaksi berjalan defisitnya semakin lebar hingga penerimaan pajak dibanding Produk Domestik Bruto atau PDB (tax ratio) sejak tahun lalu.

Sebelumnya, Presiden Jokowi dalam konefrensi pers, Senin (2/11/2020) kemarin, menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi minus sekitar 3 persen pada kuartal III 2020. Artinya, Indonesia resmi masuk jurang resesi setelah pada kuartal sebelumnya, laju ekonomi minus 5,32 persen.

"Pada kuartal III ini, kita juga mungkin sehari, dua hari, tiga hari akan diumumkan oleh BPS, juga masih berada di angka minus. Perkiraan kami minus 3 persen, naik sedikit," ujar Jokowi.

Baca juga: Pendaftaran Kartu Prakerja Gelombang 11 Dibuka, Ini Hal-hal yang Perlu Diketahui



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X