Luhut dan Erick Bujuk Jepang untuk Suntik Dana di Lembaga Pengelola Investasi RI

Kompas.com - 04/12/2020, 05:22 WIB
Ilustrasi: mata uang yen Jepang Thinkstockphotos.comIlustrasi: mata uang yen Jepang

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator (Menko) bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan membujuk Pemerintah Jepang agar tertarik menyuntikkan dana investasi dalam bentuk Sovereign Wealth Fund (SWF) atau dana abadi di Lembaga Pengelola Investasi (LPI) Indonesia.

Bujukan tersebut dia sampaikan kepada Penasihat Perdana Menteri Jepang Izumi Hiroto yang menjadi agenda pertemuannya hari ini di Tokyo.

"Tujuan saya dan Menteri (BUMN) Erick ke Tokyo adalah untuk mengundang Jepang tingkatkan investasi melalui lembaga SWF yang akan dibentuk berdasarkan amanat UU Omnibus," kata dia melalui keterangan tertulis, Kamis (3/12/2020).

Baca juga: Lembaga Pengelola Investasi RI Bakal Mirip yang Dibentuk Rusia?

"Nusantara Investment Authority (NIA) akan memberikan fleksibilitas bagi investor untuk menanamkan investasi dalam bentuk ekuitas atau aset dengan pengelolaan yang transparan dan profesional," sambung Luhut.

Menteri BUMN Erick Tohir pun yang turut dalam kunjungan kerja Luhut tersebut ikut menawarkan proyek-proyek milik negara yang dianggap menarik untuk investasi.

"SWF ini kami harapkan dapat menjadi partner bagi investor asing untuk berinvestasi di sektor-sektor yang atraktif dan prioritas di Indonesia, antara lain jalan tol, airport, dan pelabuhan. Kita ingin aset-aset yang dimiliki BUMN dapat dioptimalisasikan nilainya," ujar dia.

Sementara itu, Izumi Hiroto yang didampingi oleh Gubernur Japan Bank of International Cooperation (JBIC) Maeda Tadashi dan Dubes Jepang untuk Indonesia Kanasugi Kenji menyatakan bahwa pihaknya berjanji untuk ikut partisipasi dalam SWF Indonesia.

Baca juga: Lembaga Pengelola Investasi Ditargetkan Beroperasi Januari 2021

Sementara itu, Dubes RI untuk Jepang Heri Akhmadi menyebutkan, ada beberapa proyek di Indonesia yang membuat pihak Jepang tertarik berinvestasi.

"Jepang secara umum mendukung pembentukan SWF Indonesia. Beberapa kalangan bisnis Jepang pun telah menyatakan ketertarikannya untuk berpartisipasi dalam pembangunan health tourism di Bali, manajemen operator pelabuhan, serta tingkatkan investasi di Kawasan Industri Batang," ujar Heri.

Sebelum pertemuan dengan Penasihat PM Jepang, Luhut dan Erick telah bertemu dengan Sekjen Partai Liberal Democratic Party (LDP) yang juga mantan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang, Seko Hiroshige.

Pada kesempatan terpisah, Luhut dan Erick juga telah melakukan serangkaian pertemuan sejumlah pimpinan kalangan bisnis Jepang, antara lain Mitsui & Co, Mitsubishi Corp, Sojitz, Nippon Steel, dan Hanwa.

Sebagaimana diketahui, pemerintah menargetkan LPI atau NIA mulai beroperasi awal tahun 2021. Adanya LPI ini akan menjadi salah satu kerangka pemulihan ekonomi Indonesia, di mana komponen pertumbuhan ekonomi bukan hanya dari permintaan domestik, melainkan juga dengan mendorong masuknya investasi. Pemerintah Indonesia telah siap menyuntikkan modal awal Rp 75 triliun untuk pembentukan NIA ini.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X