BI: Nilai Tukar Sudah di Bawah Rp 14.000, Berpotensi Terus Menguat

Kompas.com - 22/01/2021, 11:15 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo DOKUMENTASI BANK INDONESIAGubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo

JAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memproyeksi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS masih berpeluang menguat, meski sudah tembus di bawah Rp 14.000 per dollar AS hari ini.

Perry menyebut, penguatan nilai tukar lebih lanjut didukung karena fundamentalnya masih undervalued dan kontribusi bank sentral yang sempat menggelontorkan valas saat rupiah merangkak naik di level Rp 16.700.

"Pernah mencapai Rp 16.700 bahkan ada rumor bisa tembus Rp 20.000 per dollar AS. Berkat komitmen BI yang menggelontorkan suplai valas, sekarang di bawah Rp 14.000 dan akan berpotensi menguat karena fundamental masih undervalued," kata Perry dalam diskusi Infobank Membangun Optimisme Pasca Pandemi Covid-19 secara virtual, Jumat (22/1/2021).

Baca juga: Efek Joe Biden, BI Proyeksi Modal Asing ke RI Bakal Tembus 19 Miliar Dollar AS

Perry menuturkan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi penguatan nilai tukar.

Faktor tersebut antara lain, tingkat inflasi dan defisit transaksi berjalan yang rendah serta aliran derasnya aliran modal asing.

Inflasi pada akhir 2020 tercatat rendah sebesar 1,6 persen secara tahunan (year on year/yoy) dan berada di bawah kisaran sasaran 3 plus minus 1 persen.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Angka inflasi dipengaruhi oleh inflasi inti (core inflation) sebesar 1,6 persen (yoy).

Lalu, defisit transaksi berjalan diperkirakan sekitar 0,5 persen dari PDB pada 2020, atau lebih rendah dari perkiraan sebelumnya.

Baca juga: Sepanjang 2020, BI Suntik Likuiditas Rp 726,57 Triliun ke Perbankan

Perry mengatakan, rendahnya defisit transaksi berjalan seiring dengan surplusnya neraca pembayaran membuat stabilitas makroekonomi terjaga.

"Surplus transaksi modal jauh lebih tinggi dari transaksi berjalan yang menurun, ini membuat cadangan devisa naik 135,9 miliar dollar AS," papar Perry.

Indikator lainnya adalah terus berlanjutnya aliran modal asing yang masuk ke pasar domestik. Investasi portofolio mencatat aliran masuk sebesar 2,1 miliar dollar AS pada kuartal IV 2020, berbalik arah dari kuartal sebelumnya yang mencatat aliran keluar sebesar 1,7 miliar dollar AS.

Aliran ini terus berlanjut hingga awal tahun 2021.

Baca juga: Di Awal 2021, BI Pertahankan Suku Bunga Acuan 3,75 Persen

Perry melaporkan, hingga 19 Januari 2021, aliran modal asing yang masuk mencapai 5,1 miliar dollar AS, termasuk dari penerbitan obligasi global oleh pemerintah.

"Indonesia termasuk yang beruntung karena outflow (aliran modal keluar) hanya (terjadi) pada periode pendek, Maret-April," pungkas dia.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.