Ekonomi Sulawesi, Maluku, dan Papua Masih Tumbuh Saat Perekonomian RI Minus, Kok Bisa?

Kompas.com - 05/02/2021, 12:18 WIB
Kepala BPS Suhariyanto di Kantor BPS, Jakarta, Kamis (12/12/2019) KOMPAS.com/YOGA SUKMANAKepala BPS Suhariyanto di Kantor BPS, Jakarta, Kamis (12/12/2019)

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pusat Statisitk (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi RI sepanjang tahun 2020 minus 2,07 persen.

Bila dilihat berdasarkan kontribusi setiap pulau, Kepala BPS Suhariyanto menyebutkan, proporsi pertumbuhan ekonomi masih tidak berubah.

Jawa dan Sumatera masih menjadi dua pulau dengan penyumbang terbesar terhadap PDB, yakni mencapai 80 persen.

Baca juga: BPS: Pertumbuhan Ekonomi RI 2020 Minus 2,07 Persen

"Dilihat secara spasial, struktur pertumbuhan ekonomi tidak berubah, masih didominasi oleh Jawa dan Sumatera," jelas Suhariyanto dalam konferensi pers, Jumat (5/2/2021).

Berdasarkan data BPS, dia menyebut kontribusi Pulau Jawa tercatat sebesar 58,75 persen dengan pertumbuhan ekonomi minus 2,51 persen, Sumatera sebesar 21,36 persen dengan pertumbuhan ekonomi terkontraksi 1,19 persen.

Kalimantan serta Pulau Bali dan Nusa tenggara juga pun masing-masing juga mencatatkan kinerja perekonomian minus, yakni masing-masing sebesar 2,27 persen dan 5,01 persen.

Keduanya masing-masing memberikan kontribusi sebesar 7,94 persen dan 2,94 persen terhadap PDB.

Namun demikian, Pulau Sulawesi serta Pulau Maluku dan Papua masih tercatat tumbuh positif masing-masing 0,23 persen dan 1,44 persen.

Baca juga: Kadin: 2021 Jadi Peluang RI Tingkatkan Kontribusi Ekspor terhadap PDB

Keduanya memiliki kontribusi terhadap PDB sebesar 6,66 persen dan 2,35 persen.

Suhariyanto menjelaskan, kinerja perekonomian di Sulawesi masih bisa mencatatkan positif karena khusus di Sulawesi Tengah pertumbuhan ekonomi cukup tinggi, yakni 4,86 persen.

Hal itu didukung oleh kenaikan produksi dari feronikel.

"Sementara untuk Papua yang masih tumbuh 1,44 persen karena ada dua provinsi yang tumbuh positif selama 2020, yakni Maluku Utara 4,29 persen dan Papua 3,23 persen. Papua karena ada kenaikan produksi tembaga," jelas Suhariyanto.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X