[KURASI KOMPASIANA] Perfilman Nasional Masih Terus Berbenah | Melihat Industri Film Nasional | Berhenti Menonton Film Bajakan

Kompas.com - 30/03/2021, 17:17 WIB
Sekarang ini siapa saja bisa membuat film. ShutterstockSekarang ini siapa saja bisa membuat film.

KOMPASIANA---Setiap tanggal 30 Maret diperingati sebagai Hari Film Nasional (HFN) sejak 1950 karena merupakan hari bersejarah bagi perfilman Indonesia.

Akan tetapi bukan tanpa masalah, dunia perfilman saat ini masih belum bisa bekerja secara maksimal sejak pandemi covid-19.

Oleh karena itu masih banyak yang perlu dibenahi seperti regulasi hingga para sineas yang mulai beradaptasi.

Harapannya, terjadi kerjasama dari semua pihak --termasuk penonton-- untuk bisa memastikan bahwa film-film Indonesia masih ditunggu dan bisa dinikmati kembali.

1. Karena Perfilman Nasional Masih Terus Berbenah

Ada satu hal yang patut kita apresiasi dari industri film Indonesia saat ini yakni pada sumber daya manusia yang semakin baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Dari para aktor dan aktrisnya, sutradara, penata kamera, ataupun kepenulisan skenario pada umumnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Semuanya mampu menjadi satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan terkait berkembangnya kualitas perfilman nasional kita saat ini.

"Tak bisa dipungkiri, perfilman nasional saat ini memang masih terus berbenah dan tentunya berjalan ke arah yang positif. Meskipun tentu saja masih banyak kekurangan di berbagai sisi," tulis Kompasianer Yonathan Christanto.

Untuk penonton, misalnya, Kompasianer Yonathan Christanto melihat masih membandingkan bahkan cenderung mendiskreditkan hasil produksi film nasional dengan milik Hollywood. (Baca selengkapnya)

2. Peringatan Hari Film Nasional, Industri Film Nasional Masih Belum Baik-baik Saja

Kompasianer Dewi Puspasari menuliskan saat pertama kali datang ke bioskop sejak pandemi di Kota Malang pada awal Maret lalu.

"Sepi, penonton segelintir meski saat itu akhir pekan. Padahal harga tiket turun dan protokol kesehatan diterapkan," tulisnya.

Industri film nasional belum baik-baik saja hingga hari ini, pada peringatan Hari Film Nasional. Dampak pandemi begitu besar ke bisnis hiburan.

Industri film itu sebuah ekosistem yang besar. Ada rumah produksi film, distributor film, dan bioskop (baik konvensional maupun alternatif, serta platform streaming.

Akan tetapi, lanjutnya, industri film mencoba melakukan terobosan dengan menayangkan film secara eksklusif di ranah streaming. (Baca selengkapnya)

3. Rayakan Hari Film Nasional, Berhenti Menonton Film Bajakan

Kompasianer Sabila Hayuningtyas punya cara sederhana dalam merayakan Hari Film Nasional yaitu dengan tidak menonton film-film bajakan.

Karena dengan tidak menonton film bajakan sekaligus menghargai serta memberi dukungan kepada para pekerja film Indonesia dalam berkarya.

Sehingga dampaknya bagi para pekerja film menjadi lebih percaya diri dan semangat dalam meraih prestasi yang kemudian dapat mengangkat derajat perfilman Indonesia.

"Ya, saya masih menemukan teman-teman yang dengan bangga atau tanpa perasaan bersalah membagikan situs film bajakan melalui akun media sosialnya seperti telegram, facebook, dan lain sebagainya," tulis Kompasianer Sabila Hayuningtyas.

Sangat tidak disangka, lanjutnya, beberapa orang justru menanggapi hal ini dengan wajar. (Baca selengkapnya)

***

Simak ulasan terkait dunia perfilman Indonesia di Kompasiana dengan label: Hari Film Nasional.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.