KOLOM BIZ
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Experd Consultant

Silaturahmi pada Masa Pandemi

Kompas.com - 15/05/2021, 08:00 WIB
Ilustrasi silaturahmi di masa pandemi. Shutterstock/Odua ImagesIlustrasi silaturahmi di masa pandemi.

MEMASUKI pengujung Ramadhan, rasa rindu terhadap keluarga besar semakin berkecamuk dalam diri kita. Momen berkumpul bersama keluarga besar setelah sekian lama sibuk bekerja dan menjalani kehidupan sendiri selalu ditunggu-tunggu.

Meski demikian, tahun ini kita perlu tetap realistis dengan menyadari bahwa wabah penyakit masih ada. Mau tak mau kita harus menahan keinginan untuk bersilaturahmi tersebut.

Adanya pandemi Covid-19 memang membuat hal-hal yang biasanya kita sepelekan, seperti hubungan dengan orangtua atau sahabat, terasa menjadi lebih penting karena terbatasnya kesempatan untuk bertemu.

Kita juga semakin menyadari betapa selama ini interaksi dengan anggota keluarga begitu minim karena teralihkan oleh kesibukan. Pandemi juga membuat interaksi dengan keluarga dan orang terdekat lebih disadari dan disyukuri.

Tanpa disadari, pada masa pandemi ini, aspek sosial dari kehidupan kita ternyata adalah aspek yang paling sulit dikelola.

Sekarang, muncul istilah domestic abuse, yaitu perasaan yang dulu selalu kangen berada di rumah saja, berganti dengan perasaan terkurung di rumah. Meskipun sebenarnya “kurungan” tersebut tidak berwujud fisik.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Silaturahmi Online, Ini Cara Menghemat Kuota Google Meet dan Zoom

Hal itu membuat kita terus mencari kesempatan untuk bertemu dengan orang di luar rumah, entah di kantor ataupun mengunjungi anggota keluarga, utamanya orangtua. Semua orang rindu untuk berinteraksi, berkumpul, dan bersilaturahmi.

Harapan akan berlalunya masa pandemi ini terus silih berganti. Vaksinasi yang tadinya terlihat memberi angin segar untuk bisa pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga, tiba-tiba pupus.

Seiring dengan munculnya mutasi virus yang semakin berbahaya larangan ketat untuk bepergian pun diterapkan.

Kondisi yang serba tidak pasti ini menyebabkan kita semakin sulit mengelola hubungan interpersonal. Walaupun dapat berhubungan secara virtual melalui medium elektronik, tetap saja tatap muka sangat kita butuhkan. Apalagi dengan mereka yang dekat di hati seperti anggota keluarga.

Dalam kondisi seperti ini, alangkah baiknya kita menata hubungan interpersonal dengan memperhitungkan segala keterbatasan yang ada. Mengharapkan situasi pandemi segera berlalu hanya membuat kita tidak melakukan upaya optimal untuk mendapatkan yang terbaik dari apa yang bisa kita upayakan. Kesehatan mental kita pun akan terancam.

Baca juga: 5 Aplikasi Video Call yang Dapat Dipergunakan untuk Silaturahmi Saat Idul Fitri

Banyak lembaga kesehatan mental memberikan aneka saran yang dapat membantu meningkatkan intensitas hubungan kita. Kita dapat belajar meningkatkan keterampilan menggunakan beragam perangkat elektronik untuk berhubungan dengan orang lain serta meluangkan dan mengatur waktu dengan serius untuk berhubungan dengan teman atau keluarga.

Banyak orang mengakui, berhubungan secara elektronik memang memungkinkan kita untuk melakukan multitasking, seperti hadir di dua rapat atau mendengarkan ceramah sambil tetap melakukan chatting. Namun, untuk mendapatkan manfaat dari pertemuan secara elektronik dan menjalin hubungan yang berkualitas, kita harus be present dalam setiap pertemuan.

Artinya, kita perlu benar-benar memperhatikan lawan bicara kita ketika sedang berinteraksi dengan mereka, baik keluarga, orangtua, anak, pelanggan, maupun anggota tim kita di kantor. Kita juga perlu meningkatkan keterampilan mendengar dengan sepenuh hati untuk benar-benar memahami.

Ingat, kesempatan berhubungan dengan orang lain tidak sebebas seperti masa sebelum pandemi. Oleh karena itu, kita perlu memanfaatkan setiap kesempatan berhubungan dengan orang lain sebaik-baiknya.

Baca juga: Idul Fitri 1442 H, Menkominfo Ajak Masyarakat Silaturahmi secara Digital

Kita pun harus memperbaiki cara kita berkomunikasi sehingga dapat lebih didengar. Pada dasarnya, cara berkomunikasi sangat penting dalam meningkatkan kualitas hubungan. Cara berkomunikasi ini adalah sebuah keterampilan yang dapat dipelajari agar menjadi lebih baik.

Stay connected

Eileen RachmanDok. EXPERD Eileen Rachman
Berhubungan melalui teks, telepon, bahkan video call, memang tidak seratus persen memuaskan. Namun, kabar mengenai apa yang terjadi di tempat yang kita rindukan cukup dapat menjadi pelipur lara manakala tangan belum dapat menjangkau sanak saudara.

Dengan mempelajari cara kerja perangkat komunikasi elektronik kita menjadi lebih tersambung satu sama lain. Momen ini, juga bisa menjadi kesempatan untuk anak-anak muda bisa menjadi lebih akrab dengan senior mereka dengan mengajarkan penggunaan internet untuk berinteraksi.

Di sebuah kampung di Jawa Tengah, seorang ibu yang berusia 90 tahun dapat menulis e-mail panjang kepada putra-putrinya. Melalui surat elektronik, ia menceritakan apa saja yang dialami serta mengirimkan resep-resep masakan Lebaran andalannya agar mereka tetap dapat merasakan suasana hari raya di rumah masing-masing.

Kerinduan kita untuk tetap tersambung pun dapat dilakukan dengan mendukung mereka yang sakit dan menderita ataupun mengalami kesulitan ekonomi melalui gerakan-gerakan sosial.
Selain menemukan kesamaan rasa, kita dapat membuat hidup terasa lebih bermakna. Mungkin kita tidak bertemu muka, tetapi kesamaan rasa ini pasti membangkitkan rasa hangat juga.

Ciptakan kepastian

Keteraturan sebenarnya dapat mengobati rasa galau sebagai akibat rindu yang melanda ini. Untuk menciptakan keteraturan dan kepastian tersebut, jadwal rutin untuk melakukan kontak dengan sesama dapat dibuat.

Dengan begitu, ada momen interaksi yang selalu dinantikan setiap hari. Rasa galau kita dalam situasi yang serba tidak pasti seperti sekarang dapat dikurangi.

Baca juga: 5 Topik Sensitif yang Pantang Dibicarakan Saat Silaturahmi Idul Fitri

Sekadar pesan selamat pagi yang rutin dikirimkan oleh kerabat kita setiap hari sudah merupakan bentuk rutinitas. Tanpa sadar, kita akan menantikan kesempatan membuka telepon genggam pada pagi hari karena secara tidak langsung pesan tersebut mengabari bahwa mereka dalam keadaan baik-baik saja.

Benahi diri

Kita perlu menyadari, berjuta-juta manusia lain merasakan kerinduan yang sama dengan kita. Ini memang tahun keterpisahan bagi semua orang. Hal paling utama yang dapat kita kerjakan adalah mengatur diri sendiri.

Riset menunjukkan, semakin kita merasa terkurung, semakin kita berkonspirasi dan berpikiran negatif. Kita lebih mudah menghakimi orang atau berasumsi bahwa orang berpikiran negatif terhadap kita.

Tetap banyak bergerak, menikmati udara terbuka, merasakan kesegaran alam, dan mensyukuri apa yang masih kita miliki dapat membantu kita membahagiakan diri sendiri.

If you’re rekindling a relationship right now, make sure it isn’t just to distract you from working on yourself. - Sean Davis PhD


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya