Mau Jadi Bank Digital, BRI Agro Niat Ganti Nama

Kompas.com - 05/06/2021, 16:30 WIB
Ilustrasi Bank Digital ShutterstockIlustrasi Bank Digital

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Bank BRI Agroniaga Tbk (BRI) sudah memiliki niat untuk mengubah nama. Rencana ini bakal dipublikasikan kepada para pemegang saham BRI Agro dalam waktu dekat.

Direktur Utama BRI Agro Kasper Situmorang mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan beberapa opsi nama bank. Perubahan nama bakal didiskusikan lebih lanjut.

"Secara prinsip kami akan mengubah nama karena persepsinya seperti bank sawit digital. Kami punya beberapa opsi nama," kata Kaspar dalam diskusi virtual, Sabtu (5/6/2021).

Baca juga: Akuisisi BPR Syariah, Alami Fintek Siapkan Bank Digital?

Kasper menuturkan, perubahan nama adalah langkah perseroan menjadi bank digital untuk Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).

Seiring dengan itu, BRI Agro bakal meluncurkan layanan digital savings guna menggenjot 30-40 persen dana murah. Nantinya, portofolio pinjaman nasabah pun bakal ditransformasi ke digital.

"Sekarang portofolio lending kita yang konvensional masih di atas 80 persen. Nah ini akan terbalik nanti di tahun 2023, 80 persen digital lending, sisanya credit konvensional," beber Kaspar.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selain itu, perseroan membidik 10 persen gig economy masuk dalam ekosistem. Pasalnya menurut Kaspar, pekerja dalam kriteria gig economy (pekerja lepas) masih banyak yang belum memiliki akses ke layanan keuangan digital.

Dia yakin, konsep menjaring nasabah BRI Agro tidak akan tumpang tindih dengan induknya, yang sama-sama menyasar UMKM maupun masyarakat kecil.

Baca juga: Bank Besar Ramai-ramai Ajukan Lisensi Bank Digital

Pasalnya, BRI Agro hanya menyasar nasabah-nasabah yang sudah punya rekening namun belum mendapat akses kredit maupun layanan keuangan lain. Sedangkan Bank BRI menyasar masyarakat unbankable.

"Fokus kita sekarang adalah bagaimana akhir 2025 bisa menyasar 10 persen gig ekonomi. Jadi mereka bisa memiliki rekeningnya BRI Agro dengan cara-cara business to business atau business to consumer melalui para fintech dan melalui grup keuangan kami sendiri di BRI," tutur Kaspar.

Saat ini kata Kaspar, bank-bank Tanah Air belum terbiasa dengan proses underwriting untuk menilai kepantasan nasabah pada lingkup gig economy mendapat kredit perbankan.

Untuk itu, pihaknya bakal menciptakan proses underwriting yang relevan guna menambah nasabah dari sektor pekerja lepas.

"Misalnya sektor informal seperti Youtuber punya followers sudah 1 juta, mau bikin konten butuh capital (modal). Ini kalau masuk ke bank sudah pasti enggak dikasih, tapi kalau kita ngerti underwritingnya, bisa dihitung potensi pendapatannya. Itulah yang kami bilang the new UMKM," pungkasnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X